Alasan Jetstar Asia Berhenti Operasi Setelah 21 Tahun

Penutupan Operasi Jetstar Asia Pada 31 Juli 2025, maskapai penerbangan bertarif rendah asal Singapura, Jetstar Asia, secara resmi menghentikan seluruh operasinya. Setelah lebih dari dua dekade beroperasi sejak penerbangan pertamanya pada Desember 2004, perusahaan ini menutup pintu dengan penerbangan emosional 3K764 dari Manila ke Singapura. Penerbangan tersebut membawa 156 penumpang dan tujuh awak kabin. Di […]

Penutupan Operasi Jetstar Asia

Pada 31 Juli 2025, maskapai penerbangan bertarif rendah asal Singapura, Jetstar Asia, secara resmi menghentikan seluruh operasinya. Setelah lebih dari dua dekade beroperasi sejak penerbangan pertamanya pada Desember 2004, perusahaan ini menutup pintu dengan penerbangan emosional 3K764 dari Manila ke Singapura. Penerbangan tersebut membawa 156 penumpang dan tujuh awak kabin.

Di Bandara Ninoy Aquino, suasana haru menyelimuti para staf dan penumpang. Norazman Sapiie, pramugara layanan pelanggan yang bekerja di Jetstar Asia sejak 2004, memberikan perpisahan kepada rekan-rekannya dan memimpin kru untuk terakhir kalinya. Ia mengucapkan, “Cabin crew, for one last time, let’s go home,” saat pesawat lepas landas.

Alasan Penutupan Operasi

Keputusan Jetstar Asia untuk menutup operasi diambil setelah tinjauan mendalam terhadap kondisi keuangan dan pasar. Faktor-faktor utama termasuk ketidakstabilan ekonomi, persaingan ketat dari maskapai berbiaya rendah lain seperti Scoot milik Singapore Airlines, serta meningkatnya biaya operasional. Vanessa Hudson, CEO Qantas, induk perusahaan Jetstar, menyatakan bahwa sebagian biaya dari pemasok Jetstar Asia meningkat hingga 200 persen, yang secara signifikan mengubah struktur biaya operasional.

Selain itu, skala operasi Jetstar Asia yang terbatas, hanya dengan 13 pesawat Airbus A320, tidak mampu bersaing dalam jangka panjang di pasar yang didominasi oleh maskapai dengan armada yang lebih besar. Analis penerbangan Tony Webber menilai bahwa persaingan di Singapura sangat ketat, dengan dua maskapai lain yang memiliki tarif rendah dan skala operasional besar. Ia juga menyebut ketidakpastian global seperti tarif dagang dari pemerintahan Trump dan tekanan ekonomi dunia sebagai faktor tambahan.

Perpindahan Armada dan Dampak Karyawan

Qantas mengumumkan bahwa 13 armada Jetstar Asia akan dipindahkan ke pasar domestik Australia dan Selandia Baru. Hal ini akan menciptakan 100 lapangan kerja baru, namun juga menghapus sekitar 500 posisi di Singapura. Keputusan ini berdampak pada 16 rute penerbangan regional Jetstar Asia dan mengakhiri kehadiran perusahaan di pasar penerbangan Asia Tenggara.

Penerbangan Terakhir yang Penuh Emosi

Penerbangan terakhir 3K764 dari Manila ke Singapura diwarnai oleh banyak penumpang yang memiliki hubungan emosional dengan maskapai ini. Salah satunya adalah mantan CEO Jetstar Asia, Barathan Pasupathi, yang ikut secara pribadi dalam penerbangan terakhir. Beberapa penumpang bahkan rela terbang dari luar negeri demi menjadi bagian dari sejarah ini, termasuk pasangan asal Hong Kong, Ms Tikka Cheung dan Herman Yip, serta keluarga pilot Roy Espinosa Agarrado dari Filipina.

Suasana mengharukan tak terbendung saat pesawat mendarat di Bandara Changi pada pukul 21.18. Para awak pesawat disambut oleh ratusan orang dengan sorakan, pelukan, dan air mata.

Pengembalian Dana dan Proses Refund

Jetstar Asia telah mengumumkan bahwa semua pelanggan yang terdampak akan mendapatkan pengembalian dana penuh atau penerbangan pengganti. Bagi pemegang voucher atau keanggotaan Club Jetstar, perusahaan memastikan proses refund akan dimulai Agustus ini. Dengan penutupan operasi ini, Jetstar Asia meninggalkan jejak sejarah di industri penerbangan Asia Tenggara.