Outline:
Perbandingan Performa GOTO dan BUKA di Pasar Saham Indonesia
Dua perusahaan teknologi terbesar di Indonesia, GoTo (GOTO) dan Bukalapak (BUKA), sedang bersaing ketat di pasar saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor ritel maupun institusi mulai mempertanyakan mana yang lebih menjanjikan dalam jangka menengah hingga panjang. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang performa fundamental, prospek bisnis, valuasi, serta sentimen pasar dari kedua emiten tersebut.
Perbedaan Model Bisnis GOTO dan BUKA
GOTO menggabungkan layanan transportasi, pembayaran digital, dan e-commerce, sementara BUKA lebih fokus pada marketplace digital dan mitra warung. GOTO adalah konglomerat digital hasil dari merger antara Gojek dan Tokopedia, dengan tiga segmen utama: layanan on-demand (Gojek), e-commerce (Tokopedia), dan fintech (GoPay). Hal ini menciptakan ekosistem tertutup yang saling terintegrasi.
Sebaliknya, BUKA mengandalkan model bisnis asset-light dengan fokus pada pemberdayaan warung dan UMKM melalui platform marketplace dan mitra BukaWarung serta BukaMitramart. BUKA menargetkan segmen yang belum terlayani melalui pendekatan berbasis komunitas digital.
Data Pendukung
GOTO memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan, dengan pendapatan kuartal pertama tahun 2025 sebesar Rp161 triliun, meningkat 8,4% secara tahunan. Sementara itu, BUKA mencatat 20 juta pengguna aktif bulanan, dengan kontribusi dari 14 juta warung.
Performa Keuangan dalam 12 Bulan Terakhir
Dalam kuartal pertama tahun 2025, GOTO mencatat pendapatan sebesar Rp5,3 triliun, naik 19% YoY, namun masih mengalami rugi bersih sebesar Rp3,2 triliun. Burn rate GOTO masih tinggi karena biaya akuisisi pengguna dan ekspansi ekosistem.
Sementara itu, BUKA mencatat pendapatan sebesar Rp1,1 triliun, naik 11,2% YoY, dengan rugi bersih yang berhasil ditekan menjadi Rp347 miliar dari sebelumnya Rp890 miliar. Ini menunjukkan efisiensi operasional yang lebih baik.
Analisis Tambahan
BUKA mencetak EBITDA adjusted -7%, membaik dari -24% pada kuartal pertama tahun 2024. Sementara GOTO masih mencatat EBITDA adjusted -18%, meskipun telah membaik dari -34% pada tahun sebelumnya.
Valuasi GOTO dan BUKA
Per Agustus 2025, BUKA terlihat lebih undervalued dengan price-to-sales (P/S) ratio 2,1x, dibandingkan GOTO yang memiliki P/S ratio 4,3x. Harga saham GOTO berada di kisaran Rp105/saham dengan market cap Rp125 triliun, sedangkan BUKA di Rp54/saham dengan market cap Rp59 triliun. Dengan volume transaksi harian yang relatif seimbang, valuasi BUKA menawarkan diskon menarik bagi investor value.
Keunggulan Kompetitif Jangka Panjang
GOTO unggul dalam skala ekosistem, sementara BUKA lebih unggul dalam fokus vertikal dan efisiensi. GOTO mampu mengintegrasikan pembayaran, logistik, dan produk digital dalam satu aplikasi. Sinergi antara Gojek, Tokopedia, dan GoPay memperkuat retensi pengguna.
BUKA memiliki fokus yang lebih tajam pada sektor UMKM dan mitra offline-to-online (O2O). Kemitraan strategis dengan Emtek dan Transmart memperluas akses ke kanal distribusi ritel fisik dan konten digital.
Sudut Pandang Analis
Menurut Mandiri Sekuritas (Juli 2025), BUKA memiliki runway efisiensi yang lebih cepat dicapai, cocok untuk investor konservatif. Sementara Mirae Asset (Juni 2025) menyatakan bahwa GOTO berpotensi menjadi dominator layanan digital jika mampu menekan rugi operasional.
Sentimen Pasar Tahun 2025
Investor ritel lebih optimistis terhadap BUKA, sementara institusi masih menaruh harapan pada GOTO. Data RTI Business menunjukkan bahwa jumlah investor ritel BUKA tumbuh 14% sepanjang semester I 2025, sementara GOTO tumbuh 9%. Namun, 61% kepemilikan GOTO didominasi oleh institusi besar seperti Alibaba, SoftBank, dan Telkom Indonesia.
GOTO juga menjadi incaran media akibat potensi IPO anak usaha fintech (GoPay), sedangkan BUKA lebih jarang terekspos, namun menunjukkan pertumbuhan organik yang konsisten.
Kesimpulan
BUKA lebih cocok untuk investor jangka menengah yang menginginkan efisiensi dan valuasi murah, sementara GOTO menjanjikan potensi pertumbuhan besar jika mampu menekan kerugian. Keduanya menghadapi tantangan likuiditas global dan persaingan dari e-commerce luar seperti TikTok Shop dan Shopee. Namun, arah transformasi bisnis GOTO dan BUKA akan sangat ditentukan oleh keberhasilan monetisasi user base dan efisiensi operasional.
