Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Apakah Pantas?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Apakah Pantas? Apakah Ibnu Taimiyah Pantas Mendapat Gelar Syaikhul Islam? Siapakah Imam Ibnu Taimiyah? Apakah Benar Gelarnya adalah Syaikhul Islam? Apakah Ibnu Taimiyah Ulama Besar? Apakah Ibnu Taimiyah Menjadi Rujukan dari Aliran Ekstrim? Kenapa Ibnu Taimiyah Sangat Disukai oleh Kalangan Salafi? Apakah Benar Ibnu Taimiyah Pernah Mengkafirkan Sufi dan Asy’ari? Seperti […]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Apakah Pantas? Apakah Ibnu Taimiyah Pantas Mendapat Gelar Syaikhul Islam? Siapakah Imam Ibnu Taimiyah? Apakah Benar Gelarnya adalah Syaikhul Islam? Apakah Ibnu Taimiyah Ulama Besar? Apakah Ibnu Taimiyah Menjadi Rujukan dari Aliran Ekstrim? Kenapa Ibnu Taimiyah Sangat Disukai oleh Kalangan Salafi? Apakah Benar Ibnu Taimiyah Pernah Mengkafirkan Sufi dan Asy’ari? Seperti Apa Perjalanan Dakwah Imam Ibnu Taimiyah?
Insyaa Allah Syekh Muhammad Alfuli akan menjawab pertanyaan ini, semoga bermanfaat 🌹🌹

=================

Imam Ibnu Taimiyah. Apakah benar Imam Ibnu Taimiyah gelarnya adalah Syaikhul Islam? Apakah benar beliau ini ulama besar? Apakah benar beliau menjadi rujukan pertama kelompok ekstrem? Kenapa Imam Ibnu Taimiyah itu sangat disukai oleh kalangan Salafi, tapi tidak disukai oleh kalangan ahlusunah wal jamaah? Apakah benar Imam Ibnu Taimiyah pernah mengkafirkan sufi? Apakah benar Imam Ibnu Taimiyah pernah mengkafirkan Asy’ari? Baik, Teman-teman. Supaya kita bisa memahami siapa beliau, siapa Ibnu Taimiyah, kita harus memahami latar belakangnya dulu.

Imam Ibnu Taimiyah lahir di keluarga yang bukan keluarga biasa, keluarga ilmu. Bahkan ayahnya sendiri merupakan ulama besar. Imam Ibnu Taimiyah lahir di kota Harran. Kota Harran itu, Teman-teman, salah satu kota yang berada di Suriah. Salah satu kota yang pakai bahasa Arab, salah satu kota Arab. Ee tetapi di zaman kita ini sudah masuk wilayah Turki, tetapi warganya sampai hari ini pakai bahasa Arab. Kota Harangan dari Mongol, Teman-teman.

Maka Imam Ibnu Taimiyah dan ayahnya terpaksa pindah ke Damaskus. Ketika ayahnya pindah ke Damaskus, karirnya sebagai ulama mulai melesat, Teman-teman. Ayahnya dipilih sebagai mufti, sebagai guru besar di Jami Amawi. Dan ini juga merupakan kesempatan yang luar biasa buat Ibnu Taimiyah untuk mempelajari ilmu, belajar ilmu dari semua masyaikh yang ada di Damaskus waktu itu. Bahkan di umur 17 tahun, Imam Ibnu Taimiyah dikasih amanah untuk mengajar di Masjid Amawi. Ini luar biasa, Teman-teman. Ibarat misalnya ada satu kampus yang terkenal sekali, kemudian ada anak umurnya 17 tahun diberi amanah untuk mengajar di kampus tersebut.

Padahal di kampusnya muridnya aja sudah sangat tinggi ilmunya apalagi gurunya. Waktu itu teman-teman yang diberi amanah mengajar di Masjid Amawi adalah orang yang umurnya 40-an, 50-an, 60-an ke atas. Ini orang pertama yang diberi amanah mengajar di umur yang sangat muda. Dan bahkan setelah ayahnya meninggal dunia di umur 22 tahun, dia diberi amanah baru untuk mengantikan imamnya. Sehingga Imam Ibnu Taimiyah dari umur yang sangat muda 22 tahun sudah dilantik menjadi mufti di negeri Syam, memberi fatwa kepada orang-orang. Dan jabatan mufti sampai hari ini ini bukan jabatan yang biasa.

Ini jabatan yang tidak mudah didapat. Tidak sembarangan orang bisa menjadi mufti.

Begini, Teman-teman. Waktu itu negeri Syam, Mesir, dan mayoritas negara Islam berakidah Asy’ariah. Sampai hari ini, Teman-teman, mayoritas muslim di seluruh dunia Asy’ari, Maturidi. Tapi suatu hari Imam Ibnu Taimiyah dikirim surat oleh beberapa warga di kota hama. Kota hama itu masih ada di Surya sampai hari ini. Mereka bertanya kepada Imam Ibnu Taimiyah tentang sifat Allah Subhanahu wa taala.

Maka Imam Ibnu Taimiyah karang buku yang singkat, buku yang tidak besar yang sampai hari ini bukunya dikenal dengan Al-Aqidah al-Hamawiyah. Kata hamawiyah itu dari kota hama karena yang bertanya adalah warga kota hama. Tapi masalahnya al-Aqidah alhamawiyah itu menjelaskan sifat Allah. Apa yang Imam Ibnu Taimiyah sampaikan di buku ini berbeda dengan apa yang dipercaya oleh mayoritas warga dan mayoritas ulama di negeri Syam. Gara-gara kitab ini, Teman-teman, menjadi banyak masalah dan banyak perselisihan, banyak debat antara Imam Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama yang ada di negeri Syam waktu itu.

Tapi perdebatan itu dan masalah itu tidak lanjut karena tiba-tiba umat Islam diberi ujian yang sangat berat yaitu adanya Tatar. Tatar datang dari Asia untuk menjajah wilayah Syam dan wilayah Mesir, Teman-teman. Yang luar biasa itu, Teman-teman, Imam Ibnu Taimiyah maupun ulama-ulama yang berbeda pendapat dengan dia, semuanya melupakan perbedaan di antara mereka. Semuanya merupakan perdebatan yang latar belakangnya ilmu fikih atau ilmu akidah. Dan semuanya bersatu untuk melawan penjajah yang ingin datang menghancurkan negeri Islam.

Imam Ibnu Taimiyah bekerja sama dengan mereka dalam Danta kutip bekerja sama dengan Asy’ari, dengan Maturidi, dengan sufi untuk melawan penjazah itu. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah waktu itu sering dipilih sebagai utusan untuk pergi ke pemimpin Tatar negosiasi sama dia. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah ketika ada pasukan yang keluar dari Mesir melawan Tatar, Imam Ibnu Taimiyah ikut pasukannya.

Tapi bukan ikut untuk berperang, ikut untuk menyemangati para mujahidin dan mengisi kajian-kajian untuk para mujahidin. Sampai Imam Ibnu Taimiyah rela meninggalkan negeri Syam tempatnya untuk pergi ke Mesir untuk meminta bantuan Sultan Mamluk di sana untuk membantu tentara Syam supaya bisa melawan Tatar, Teman-teman. Tetapi waktu itu yang terjadi Tatar tidak jadi masuk Syam dan masuk Mesir ketika melihat perlawanan. Jadi tidak terjadi perang sebenarnya. Ketika Tatar melihat perlawanan yang luar biasa, mereka langsung mundur dan pulang lagi ke negaranya.

Tapi yang tidak pulang itu adalah Imam Ibnu Taimiyah. Imam Ibnu Taimiyah tetap di Mesir. Sepertinya Imam Ibnu Taimiyyah jatuh cinta dengan Mesir dan tidak mau pulang lagi dari Mesir. Ibnu Taimiyah di Mesir sudah menetap dan sudah aktif mengajar di Mesir dan sudah mengarang satu buku, buat satu buku, menulis satu buku yang sangat terkenal sampai hari ini. Namanya Al-Aqidah Al-Wasatyah. Menjelaskan tentang sifat Allah, tentang akidah menurut Ibnu Taimiyah.

Tapi masalahnya teman-teman, apa yang disampaikan di dalam buku tersebut sama seperti yang disampaikan di buku sebelumnya, Al-Aqidah Hamawiyah bertentangan dengan apa yang dipercaya oleh sebagian besar dari warga Mesir dan sebagian besar dari ulama Mesir yang Asy’ari, Maturidi dan lain-lain. Sampai satu hari, Teman-teman, ada perdebatan yang panas sekali antara Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama Mesir. Dan ada salah satu orang yang membisikkan ke pemimpin Mesir waktu itu untuk memenjarakan Imam Ibnu Taimiyah. Karena apa yang dia katakan katanya berbahaya bagi awam, Teman-teman.

Padahal ini masalah yang tidak harus dibawa karena penjara dan hukum dan lain-lain. Ini perdebatan akidah biasa. Tapi alhasil, Teman-teman, Imam Ibnu Taimiyah dipenjara di dalam Mesir selama 1 tahun. Setelah 1 tahun Imam Ibnu Taimiyah ditawari tiga hal. Yang pertama pulang lagi ke Damaskus. Yang kedua, tetap tinggal di Mesir tetapi dengan beberapa syarat tertentu. Yang ee ketiga tetap ada di dalam penjara. Kemudian Imam Ibnu Taimiyah memilih untuk pulang ke Tamaskus. Tapi sepertinya beliau tidak bisa melupakan Mesir.

Jadi beliau kembali ke Mesir setelah pemimpin yang menghukum dia penjara itu jatuh, beliau kembali ke Mesir dan mulai lagi aktif mengajar. Tetapi terjadi ee masalah lagi dengan sufi di Mesir. Sufi di Mesir itu banyak sekali, Teman-teman. Dan dalam pemahaman sufi ada yang namanya istighatah, Teman-teman. Kita enggak bahas sekarang benar atau tidak. Cuman kita cerita saja, ya. Istighasah itu artinya meminta pertolongan. Jadi, ada istigha billah, meminta pertolongan kepada Allah. Ada istighta bin Nabi, meminta pertolongan kepada Nabi.

Istigha bil shihin, meminta pertolongan kepada orang saleh. Kata Imam Ibnu Taimiyah, istighatah itu tidak boleh kecuali istighatah kepada Allah Subhanahu wa taala. Meminta pertolongan kepada Allah. Tapi istigha bin Nabi tidak boleh. Istighasah dengan orang saleh tidak boleh. Dan itu apa? Ya memicu kemarahan sufi di Mesir. Sehingga Imam Ibnu Taimiyyah dihukum lagi. Tapi kali ini bukan penjara. kali ini diasingkan ke kota Iskandariah. Karena kota Iskandariah itu adalah pusatnya sufi waktu itu di Mesir.

Maka menurut mereka yang mengasingkan Imam Ibnu Taimiyah ketika Imam Ibnu Taimiyyah berada di Iskandaryah, dia tidak bisa berpendapat seenaknya gitu ya. Menurut mereka tidak bisa mengatakan atau menyampaikan pendapat-pendapat tentang istighasah yang mengganggu orang Iskandariah karena pasti akan takut. Tapi yang luar biasa, Teman-teman, setelah diasingkan ke Iskandariyah, dakwahnya melesat, Teman-teman. Dakwahnya semakin terkenal dan dakwahnya disukai oleh banyak warga Iskandariah. Setelah itu, Teman-teman, Ibnu Taimiyah memilih untuk pulang lagi ke Damaskus.

Kemudian di salah satu kajian ada seorang jemaah mungkin intel teman-teman yang bertanya kepada Imam Ibnu Taimiyyah satu pertanyaan yang menyebabkan banyak masalah kepada Imam Ibnu Taimiyyah. Apa pertanyaannya? Kata Imam kata jemaahnya, “Wahai Imam, apa pendapatmu tentang soal bersumpah dengan talak? Apakah talaknya jatuh atau tidak?” Ana jelasin sedikit, Teman-teman, apa itu bersumpah dengan talak? Ketika misalnya ada satu ee orang yang mengatakan kepada istrinya, “Jika kamu keluar, aku bersumpah.

Jika kamu keluar rumah ini, aku cerai kamu.” Atau aku bersumpah dengan talak, kamu tidak boleh keluar rumah ini. Jadi, kalau keluar berarti dia akan cerai istrinya. Dia bertanya, jemahnya bertanya, “Apakah talaknya jatuh atau tidak?” Biar kita pahami latar belakangnya, Teman-teman. Menurut empat mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali bersumpah dengan talak itu talaknya jatuh. Tapi tiba-tiba Imam Ibnu Taimiyah menyampaikan satu pendapat yang berbeda dengan pendapat mayoritas ulama, yaitu bersumpah dengan talak itu talaknya tidak jatuh.

Padahal ini pendapat 99% dari ulama Islam bahwa talaknya jatuh. Masalah ini, Teman-teman, bikin ulama-ulama di Damaskus sangat marah pada Imam Ibnu Taimiyah. Kenapa? Karena menyelisihi pendapat mayoritas umat. Empat mazhab sudah sepakat talaknya jatuh. Kenapa Imam Ibnu Taimiyah berpendapat talaknya tidak jatuh? Walaupun masalahnya kecil, kita mungkin menganggap ini masalah fikih biasa, tapi sepertinya waktu itu masalahnya bikin ulama-ulama di Damaskus sangat marah, Teman-teman.

Kemudian ada satu masalah lagi yang bikin ulama Damaskus tambah marah. Ketika Imam Ibnu Taimiyah menyampaikan bahwa haram safar untuk ziarah ke kuburan. Perhatikan teman-teman, beliau enggak bilang haram ziarah kuburan, bukan. Beliau bilang haram safar untuk ziarah kuburan. Yakni misalnya saya sekarang di kota e Jakarta misalnya. Kemudian kebetulan ada kuburan orang saleh di sini. Menurut Imam Ibnu Taimiyah, boleh saya mengunjungi kuburan itu karena saya memang ada di Jakarta.

Tapi kalau misalnya ada kuburan orang saleh di Madura misalnya atau di Surabaya misalnya, saya haram safar hannya untuk ziarah kuburannya. Tapi kalau misalnya saya kebetulan ada di Surabaya, maka saya boleh ziarah ke kuburannya. Itu juga, Teman-teman, menyelisihi pendapat mayoritas ulama bahwa tidak apa-apa jika kita safar untuk ziarah ke kuburan orang saleh. Jadi, Teman-teman, gara-gara dua masalah ini, dua masalah ini yang bikin ulama Damaskus sangat marah pada Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Taimiyah dipanggil untuk persidangan.

Persidangan antara pemimpin Damaskus waktu itu dan ulama-ulama dan mufti-mufti di Damaskus. Kemudian hasil dari persidangan itu, Imam Ibnu Taimiyah dihukum penjara untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Ketika Imam Ibnu Taimiyah dibawa ke penjara, kelihatannya biasa saja, tenang, tidak ada masalah sama sekali. Ditanya, “Kenapa biasa? Kenapa tidak takut? Kenapa tidak gelisah?” Katanya asal di dalam penjara ada buku, ada kertas, ada ee alat tulis, saya tidak terganggu sama sekali karena memang ini adalah hobi saya. Saya suka membaca buku.

menulis buku dan lain-lain. Jadi selama Imam Ibnu Taimiyah dipenjara benar-benar tidak terganggu sama sekali bahkan sangat tenang dan sangat khusyuk dan karyanya jadi lebih banyak. Jadi orang-orang penjara kaget ya. Kita ingin memenjarakan dia supaya dia ee takut, supaya dia berhenti, malah dia karyanya jadi lebih banyak. Jadi orang-orang penjara memutuskan untuk mengambil buku dan mengambil alat tulisnya. Sejak waktu bukunya diambil, baru Imam Ibnu Taimiyah merasakan sulitnya penjara.

Tiba-tiba Imam Ibnu Taimiyah sakit dan Imam Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara. Jenazahnya diantar oleh puluhan ribu orang. Puluhan ribu orang di zaman itu. Di zaman kita aja itu sudah banyak. Apalagi di zaman itu, Teman-teman.

Ini mungkin sekilas tentang hidup beliau, Teman-teman. Tetapi walaupun beliau sudah meninggal dunia, sudah tidak ada banyak perselisihan, banyak berbeda pendapat tentang beliau ini sebenarnya baik atau tidak. dan ana ingin menjawab beberapa pertanyaan untuk menerangkan masalahnya. Apakah benar Imam Ibnu Taimiyah ulama besar? Jawabannya iya betul Imam Ibnu Taimiyah ulama besar. Karyanya luar biasa, ilmunya luar biasa, bermanfaat bagi banyak orang, Teman-teman.

Tetapi sayangnya di zaman kita ini ada dua kelompok, Teman-teman. Kelompok yang pertama kelompok yang terlalu berlebihan gulu, mengagungkan Imam Ibnu Taimiyah. sehingga dilabeli dengan Syaikhul Islam. Padahal umat Islam tidak sepakat bahwa Imam Ibnu Taimiyah adalah Syaikhul Islam. Beliau memang ulama besar, tetapi ulama. Ada kesalahannya, ada kebaikannya. Ada yang lurus, ada yang tidak lurus. Biasa orang biasa, Teman-teman, yang ada kebaikannya dan pasti ada keburukannya sama seperti manusia yang lain yang di seluruh dunia.

Kemudian kelompok yang kedua terlalu benci dengan Imam Ibnu Taimiyyah. merendahkan Imam Ibnu Taimiyyah, meremahkan Imam Ibnu Taimiyyah, mengatakan bahwa Imam Ibnu Taimiyah tidak punya ilmu sama sekali. Dan kedua kelompok ini salah, Teman-teman. Imam Ibnu Taimiyah ulama besar. Tapi jangan sampai berlebihan ghulu, berlebihan mengagungkan, dan berlebihan memuliakan. Nomor dua, Teman-teman, ada satu kelompok di zaman kita ini yang mengaku atau melebeli diri sendiri bahwa mereka adalah kelompok yang mengikuti jejak salafussholeh.

Tetapi ketika kita melihat kajian-kajian dan karya buku-buku kelompok ini, kita tahu bahwa kebanyakan pendapatnya itu dari Imam Ibnu Taimiyah. Dan itu sebenarnya tidak ada salahnya, tidak ada masalahnya. Kita kan sudah sepakat Imam Ibnu Taimiyah ulama besar. Tapi jangan sampai kebanyakan pendapatnya dari Imam Ibnu Taimiyyah kemudian melebeli diri sendiri mengikuti pendapat-pendapat salafus saleh. Imam Ibnu Taimiyah bukan salaf, bukan ulama salaf. Imam Ibnu Taimiyah lebih dekat ke zaman kita dibanding zaman salaf.

Ironisnya, Teman-teman, kelompok tersebut juga menghina dan meremehkan dan ee ee yakni berbicara tidak baik tentang Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Sementara Imam Abul Hasan al-Asy’ari itu lebih dekat ke zaman salaf dibanding zaman kita ini. Nomor tiga, Teman-teman. Apakah Imam Ibnu Taimiyah akidahnya lurus atau akidahnya sesat? Teman-teman, bab biar kita sepakat, Teman-teman. Memang akidah Imam Ibnu Taimiyah berbeda dengan akidah Asy’ari dan Maturidi. Akidah mayoritas di seluruh dunia hari ini, khususnya dalam bab asma dan sifat.

Tetapi hal ini tidak boleh, Teman-teman, kita jadikan sebagai alasan untuk memecah belah umat Islam, untuk mengkategorikan saudara muslim kita berdasarkan satu pertanyaan. Allah di mana? Jika dia jawab Allah di atas arsiy maka dia orang baik, akidahnya lurus. Jika dia jawab Allah di mana-mana, maka dia orang sesat. Akidahnya tidak lurus. Tidak tahu Tuhannya di mana. Ini teman-teman tidak boleh. Yang mau menjawab Allah di atas arsy, silakan. Yang mau menjawab Allah di mana-mana silakan. Keduanya adalah akidah umat Islam.

Cuman beda pendapat saja teman-teman, kita tidak boleh membesarkan masalah ini. Kelompok yang berpendapat bahwa Allah di atas arsyi sangat sering membahas hal ini. Sehingga umat Islam sudah pusing gitu mendengar hal ini. Umat Islam sekarang harus lebih fokus membahas Palestina, Teman-teman. Harus lebih fokus membahas masalah-masalah yang benar-benar dihadapi umat Islam, Teman-teman. Kelompok itu, Teman-teman, mengaku, kelompok itu, Teman-teman, merasa dirinya mengikuti jejak sahabat. Tetapi kalau kita melihat sahabat Rasulullah, pembahasan mereka tentang Allah di mana itu sedikit sekali, Teman-teman. Mereka tidak sering membahas soal Allah di mana.

Karena ada banyak hal lain yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat Islam. Kalau saya jawab Allah ada di atas arsy. Ya. Terus apa yang berubah di kehidupan sehari-hari? Di ibadah saya, di khusyuk saya, di Palestina, apa yang berubah? Kalau saya jawab Allah di mana-mana, apa yang berubah? Nah, enggak ada yang berubah, Teman-teman. Jangan sampai masalah ini dijadikan alasan untuk memecah belah umat Islam. Yang keempat, apakah Imam Ibnu Taimiyah pernah mengkafirkan sufi dan Asy’ari? Tidak sama sekali, Teman-teman. Bahkan Imam Ibnu Taimiyyah, Teman-teman, pernah memuji banyak ulama sufi.

Jadi memang Imam Ibnu Taimiyah berbeda pendapat dengan sufi. Itu sudah sangat jelas. Tetapi Imam Ibnu Taimiyah sangat munsif. Munsif itu artinya apa? Artinya adil, Teman-teman. Ketika kita melihat satu ee hal baik dari orang, kita mengatakan ini baik. Ketika kita melihat satu hal buruk dari orang, kita mengatakan ini buruk.

Jadi, Imam Ibnu Taimiyah sangat berinteraksi dengan orang sufi, berinteraksi dengan orang Asy’ari. berinteraksi dengan orang Maturidi walaupun berbeda dari segi akidah. Perhatikan teman-teman, ketika Imam Ibnu Taimiyah negaranya, tempatnya diserangi oleh Tatar, ingin dijajah oleh Tatar, maka Imam Ibnu Taimiyyah melupakan semua perbedaan ini. Dan Imam Ibnu Taimiyah bekerja sama dengan warga yang mayoritas Asy’ari, Maturidi, bekerja sama dengan ulama yang sufi, yang Asy’ari, yang Maturidi untuk melawan Tatar. Kenapa?

Karena sekarang ketika ada musuh maka ada hal penting yang harus dibahas. Bukan masalah asma dan sifat. Terus Imam Ibnu Taimiyyah tidak pernah mengatakan, “Siapa yang mengatakan Allah di mana-mana maka dia ahlu bidah. Siapa yang melakukan ini maka dia ahlu bidah. Dan siapa yang melakukan bidah maka dia lebih jauh dari Islam dibanding ahli maksiat.” Sejak kapan maksiat lebih rendah dari bidah? Sejak kapan bidah lebih parah dari maksiat? Kata siapa, Teman-teman? Walaupun Imam Ibnu Taimiyah akidahnya berbeda dengan mayoritaswarga, waktu itu, Imam Ibnu Taimiyah tetap bertetangga dengan orang dengan baik, tetap berinteraksi dengan orang, tetap ee campur antara masyarakat dan berinteraksi dengan mereka.

Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah menyendiri dan menjauhkan diri sendiri dan murid-muridnya dari kebanyakan masyarakat. Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah melarang Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah melarang muridnya untuk hadir kajian-kajian ustaz dan ulama yang berpemahaman Asy’ari dan Maturidi dan sufi tidak pernah.

Apalagi menyendiri, apalagi buat kajian-kajiannya sendiri, apalagi buat event-event sendiri, apalagi buat lembaga-lembaga sendiri, apalagi buat sekolah-sekolah sendiri, apalagi buat yayasan-yayasan sendiri, apalagi buat masjid-masjid sendiri. Bukan kayak di zaman kita ini, Teman-teman. Di zaman kita ini ada satu kelompok yang menjauhi semua orang, memusuhi semua orang, dan merasa diri sendiri paling benar, paling mengikuti sunah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Kebanyakan pengikutnya adalah teman-teman yang baru hijrah yang semangatnya luar biasa tapi dari segi ilmu masih sedikit dan dari segi akhlak, dari segi tarbiah belum bagus juga, Teman-teman. Buktinya kita melihat kebanyakan orang yang bertengkar di komentar di sosmed itu mengaku diri sendiri. Mulia dengan ini, mulia dengan itu, mengikuti manhaj itu, mengikuti manhaj ini. Padahal barusan dia mensyalah saudaranya di komentar, barusan dia menghina saudaranya di komentar, barusan dia menuduh saudaranya menyembah kuburan.

Di komentar barusan dia menuduh saudaranya dengan ahli bidah, barusan dia menuduh saudaranya dengan sesat. Barusan dia menuduh saudaranya dengan quburuyin. Terus apakah ini akhlak manhaj salaf? Apakah ini akhlak salafus saleh? Apakah ini akhlak sahabat Rasulullah? Apakah ini akhlak tabiin? Apakah ini akhlak tabiit tabiin? Salafus saleh tidak pernah buat kajian-kajian sendiri. Ya, bahkan Sayidina Ali, Sayidina Ali salafus saleh atau tidak? Sayidina Ali adalah yakni pusatnya salafus saleh, keponakan ee sepupu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Sayidina Ali di kajian-kajiannya masih ada yang khawarij yang ikut kajiannya. Enggak ada masalah sama sekali, Teman-teman. Salafus saleh tidak pernah buat masjid-masjid sendiri. Salafus salh tidak pernah buat kajian-kajian sendiri. Salafus saleh tidak pernah menyendiri. Salafus saleh tidak pernah memusuhi semua umat. Salafus saleh tidak pernah menjauhkan diri dari seluruh umat. Salafus saleh tidak pernah mengatakan kalau menikah harus semanhaj. Enggak ada itu dalam agama teman-teman.

Teman-teman, wallahi ana mencintai semua saudaraku yang muslim semuanya tanpa terkecuali. Mau ahli bidah, mau ahli maksiat, mau keras kepala, mau akhlaknya kurang, mau merasa diri sendiri paling benar. Saya mencintai semua saudaraku yang muslim tanpa terkecuali dan saya mengajak semua saudaraku yang muslim untuk bersatu, Teman-teman. Wallahi, ada musuh yang luar biasa yang namanya Zionis Israil yang ingin menghancurkan umat Islam. Jangan sampai kita tertipu dengan dunia ini, tertipu dengan tipu daya musuh kita, di mana kita hanya fokus membahas hal-hal yang khilafiah, fokus membahas perbedaan, tapi tidak pernah membahas kesamaan.

Teman-teman, teman-teman yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Jangan lupa kalau ada request atau ada topik yang menurut teman-teman penting untuk dibahas, sampaikan di komentar. Insyaallah saya baca. Ayo kita akhiri kajian hari ini dengan doa kafaratul majelis.