KABAR BANTEN– Mitos masyarakat, asal usul Tanjung Lesung, yang mengingatkan kita untuk selalu mematuhi dan menghormati adat istiadat yang berlaku di suatu wilayah.
Seperti makna peribahasa yang menyatakan bahwa di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung, artinya di manapun seseorang berada atau tinggal, sebaiknya mengikuti adat dan kebiasaan yang berlaku di wilayah tersebut.
Seperti dilaporkan Kabar Banten melalui saluran Youtube Saerod Id., berikut asal usul Pantai Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten.
Dulunya, hiduplah seorang petualang bernama Raden Budok. Ia dikenal berasal dari Laut Selatan.
Pada suatu hari, Raden Budok mengalami mimpi bertemu dengan seorang perempuan yang sangat menawan wajahnya.
Perempuan itu membuat Raden Budok terpikat dan langsung jatuh cinta. Ia kemudian memutuskan untuk kembali berkelana guna menemukan keberadaannya.
Perempuan yang wajahnya sangat indah itu. Dengan menunggangi kudanya yang kesayangan, Raden Budok berjalan ke arah utara, bersama pula anjing miliknya.
Mereka terus berjalan ke arah utara sampai tiba di Gunung Walang, di tempat tersebut pelana Raden Budok rusak hingga ia tidak lagi bisa menunggang kuda. Raden Budok memandu kudanya sementara anjingnya tetap setia menyertai perjalanan mereka.
Akhirnya tiba di Pantai Cawar, setelah menghabiskan perjalanan yang melelahkan, Raden Budok ingin berendam di pantai yang indah tersebut. Setelah puas berenang dan membersihkan dirinya, ia melanjutkan perjalanannya sambil membawa kudanya dan anjingnya kembali berjalan.
Namun dua hewan yang biasanya sangat setia kepadanya tampak enggan meninggalkan Pantai Cawar, keduanya hanya diam dan tidak mengikuti perintah Raden Budok.
Setelah beberapa kali mengajaknya tetapi tidak diindahkan oleh kuda dan anjingnya, Raden Budok akhirnya marah dan mengutuk kedua hewan tersebut menjadi batu karang.
Kutukan Raden Budok berwujud nyata, kuda dan anjing tersebut berubah menjadi batu karang yang diam membisu di Pantai Cawar. Raden Budok melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki melewati berbagai rintangan dan halangan yang ditemuinya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Ia sampai di sebuah desa setelah melewati sungai yang meluap akibat banjir. Pada desa yang dikunjungi Raden Budok tersebut tinggal seorang janda bernama Nyi Siti. Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Sri Pohachi.
Sri Pohaci setiap hari menggiling beras menggunakan Antam dan Lesung. Antam dipukulkan ke Lesung hingga menghasilkan irama tertentu yang terdengar indah di telinga.
Perbuatan Sri Pohaci menarik perhatian anak-anak perempuan lain, mereka secara bersama-sama menggiling padi dengan metode yang sama hingga akhirnya lahir sebuah permainan yang menyenangkan dan diberi nama Ngagondang.
Masyarakat desa sangat menyukai permainan tersebut, sebelum menanam padi mereka lebih dahulu melakukan permainan Ngagondang. Namun demikian, mereka memiliki larangan yaitu tidak memainkan Ngagondang pada hari Jumat.
Saat Raden Budok tiba di desa tersebut, permainan Ngagondang sedang berlangsung. Ia sangat tertarik ketika mendengarnya. Ia lalu mendekat, dan terkejut ketika melihat salah seorang pemain Lesung yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang dilihatnya dalam mimpinya.
Wanita tersebut adalah Sri Pohaci, kemudian Raden Budok pergi ke rumahnya dan mengenal wanita yang wajahnya indah menawan itu. Ia langsung menyampaikan perasaan cintanya kepada Sri Pohaci dan berniat untuk menikahinya.
Perkawinan mereka diadakan secara sederhana dengan seluruh penduduk desa hadir dan ikut bersuka cita dalam pernikahan tersebut. Raden Budok kemudian tinggal di desa tersebut.
Setelah menikah, Sri Pohachi tetap memimpin Ngagondang. Suaminya tidak hanya mengizinkannya, tetapi juga ikut serta dalam permainan memukul Antam di Lesung yang dilakukan secara berirama, bahkan Raden Budok sangat menyukai permainan ini hingga ia lupa waktu saat melakukannya.
Terasa setiap saat dia sibuk dengan urusannya sendiri meskipun istrinya, mertuanya, maupun orang-orang lain telah memberitahu. Tanggungannya seperti sudah tertutup hingga tidak mendengarkan nasihat orang lain.
Raden Budok benar-benar sulit dibujuk, ketika hari Jumat tiba Sri Pohachi mengingatkan suaminya. Karena hari Jumat merupakan hari yang dihormati oleh warga desa untuk tidak melakukan Ngagondang.
Raden Budok tetap diam meskipun hasratnya untuk memainkan alu di Lesung yang menghasilkan irama tidak dapat ditahan.
Nyi Siti juga merasa cemas terhadap menantunya, mengingatkan Raden Budok agar tidak melakukan perbuatan yang tidak baik pada hari Jumat.
Bahkan para tokoh masyarakat juga menegaskan kepada Raden Budok untuk menghormati adat istiadat serta larangan yang berlaku di desa tersebut.
Meskipun banyak orang telah memberi peringatan kepadanya, Raden Budok tetap bersikeras untuk melakukan Ngagondang.
Tidak ada larangan baginya untuk menikmati permainan Antam kapan saja, setiap hari adalah hari bebas baginya untuk Ngagondang.
Pada hari Jumat, Raden Budok tetap tidak menghiraukan hal tersebut meskipun hanya bermain sendirian, bahkan semangatnya meningkat dengan melompat-lompat saat memukul Antam di Lesung.
Justru Ia berharap orang-orang akan datang dan ikut bermain dengannya. Sementara itu orang-orang hanya menatapnya dengan rasa heran, dan Raden Budok semakin semangat untuk bermain.
Ia berlari ke sana ke sini saat bermain, wajahnya sangat ceria seolah sangat puas bermain Ngagondang pada hari Jumat yang sakral. Dan keanehan terjadi, anak-anak desa mulai berkumpul di tempat Raden Budok bermain Ngagondang.
Mereka sangat kaget melihat pemandangan yang tidak biasa di depan mereka, bukan Raden Budok yang sedang bermain Ngagondang, melainkan seekor Lutung yang bermain Lesung. Raden Budok yang tidak menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi lutung terus memainkan Antam pada Lesung.
Kemudian Raden Budok terkejut ketika melihat dirinya, kedua tangannya memiliki bulu yang sangat lebat berwarna hitam seperti bulu Lutung. Demikian pula dengan bulu-bulu tebal berwarna hitam yang ada di kedua kakinya.
Wajahnya yang tertutup bulu tebal berwarna hitam. Demikian pula tubuhnya, lengkaplah kekagetannya ketika menemukan ekor panjang berbulu hitam muncul dari bagian belakang tubuhnya.
Merasa dirinya berubah menjadi Lutung, Raden Budok segera lari meninggalkan tempat tersebut. Ia merasa sangat malu. Dengan gerakan lincah, Lutung yang merupakan bentuk Raden Budok kemudian memanjat pohon, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
Lutung Kasarung, teriak penduduk saat melihat lutung yang merupakan bentuk wujud Raden Budok berlompatan dari pohon ke pohon lainnya. Ia terus berusaha menjauhi desa tersebut, masuk ke dalam hutan dan terus bergerak menuju tengah hutan.
Ia memutuskan untuk tinggal di tengah hutan selamanya. Sri Pohaci sangat sedih ketika mengetahui bahwa suaminya telah berubah menjadi seekor Lutung, ia merasa kehilangan keberanian untuk tinggal di desanya.
Maka secara diam-diam Ia meninggalkan desa dan berubah menjadi Dewi Padi. Desa yang menjadi tempat terjadinya peristiwa yang sangat mengejutkan dan mengherankan itu kemudian diberi nama Desa Lesung. Dan karena letaknya berada di sebuah Tanjung, maka desa tersebut akhirnya disebut Tanjung Lesung.***
