KABAR-PRIANGAN.COM – Pada siang hari, Jakarta sedang penuh sesakmellow.Langit berwarna abu-abu, kopi saya sudah dingin,deadlinemeneriaki seperti petugas penagih utang. Saya duduk di sudut kafe, menunggu Manggala. Datang terlambat,of course. Rambutnya rapi tapi vibe-nyasantai—seperti raja yang sedang berlibur dari jabatannya.
“Sorrysis,” katanya sambil meletakkan tas. “Macetnyatoxic.”
“Classic excuseKak,” aku tersenyum. “Tapi sudahlah. Aku butuh kamu.
Manggala ketawa kecil. “Curhat mode on?”
Saya mengangguk. “Saya lelah, bro. Jadi seorang jurnalis itu seperti berjalan di atas kaca. Saya ingin hidup saya baik-baik saja. Saya ingin cantik—inside-out—kaya, berprestise, terkenal. Terkenal karena kecerdasan dan keberaniannya. Tapi mengapa gajinya sangat tinggi ya?
Manggala nyeruput kopinya. “Welcome to the club.”
“Orang-orang tidak menyukai tulisan saya,” lanjut saya. “Padahal saya bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik: independen, akurat, seimbang, tidak berniat jahat. Saya memverifikasi,”cover both sides,tidak menyelipkan pendapat, tidak menyebut identitas korban, tidak menerima suap, tidak menyebarkan hoaks. Saya hanya menyampaikan fakta. Namun tetap saja ada yang merasa diserang.
Manggala mengambil napas, perlahan namun dalam. “Sis, kau tidak menyerang. Tapi bagi mereka, fakta itu seperti pisau. Ketika kepercayaan publik menurun,”impact-nya real.Orang menjadi berpikir dua kali: ‘Apakah sekolah itu aman? Bangunannya kok tidak kuat?’ Bisnis bisa terkena dampaknya, reputasi bisa hancur. Jadi, merekadefensive.”
Aku duduk. “Jadi ini kesalahan aku?”
Tidak salah,” katanya dengan tegas. “Akibat.
Gue ngelirik. “By the way, apa sebenarnya maknanya? Manggala. Terdengar seperti nama raja.”
Ia tersenyum. “Ya, berasal dari Bahasa Sanskerta. Manggala berarti keberkahan, tanda baik, pembuka jalan. Di Jawa, manggalayuda adalah panglima perang. Jadi bukan raja, tapi orang yang membuka jalan agar pasukan bisa maju. Nama ini diperoleh ibu saat dia mendengar cerita Drama Kumbara di radio Hihihi.”
Seharusnya kau,” aku tertawa. “Bagus juga,king energy dikit.”
“Queen energy juga perlu,” balasnya.
Aku lanjutkan curhatanku. “Tapi kang, kondisi mentalku terpuruk. Ada yang mengirim pesan, ada yang menelepon. Suara-suara mereka semua menyerang.”
Manggala bersandar. “Aku juga pernah. Ini, aku ceritakan.”
Ia mulai, matanya tertuju ke luar jendela. “Aku membuat berita foto. Hanya foto lahan pegunungan yang ditanami pohon kopi. Captionnya hanya deskriptif saja. Tidak menyebut pihak mana pun. Tapi tidak lama kemudian ada yang menelepon. Sikapnya sok tahu. ‘Apa yang kamu lakukan dengan tulisan seperti itu? Mau mengganggu bisnis saya? Saya akan membunuhmu!'”
Gue refleks, “Serius?”
“Serius. FeelingAku merasa tidak nyaman. Tapi aku merekamnya. Untuk keamanan. Setelah itu aku membuat tulisan baru: ‘Wartawan Diancam Akan Dibunuh.’Straight.To the point.”
“Savage,” gue gumam.
Belum selesai,” katanya. “Tidak lama, ada yang menelepon lagi. Suaranya berbeda. Lebih tenang. Bosnya keluar. Ternyata orang dari LH. Dia bertanya, ‘Ada apa sih, Manggala? Mengapa ribut-ribut?’ Dari situ terbuka. Ternyata dia yang memerintahkan orang kemarin.Ending-nya? Kita jadi temen baik.”
Gue melongo. “Plot twist.”
Manggala menunjuk saya. “Nah, adek. Kau harus bisa seperti itu. Orang yang berseberangan denganmu, bisa jadi teman. Bukan kau yang takut. Mereka yang harus waspada terhadapmu—karena kau rapi, taat pada etika, dan memegang data.”
Aku diam. Katanya terjebak. Seperti poster motivasi namun versi jalanan.
“Kamu ingin cantik, kaya, berprestasi, dan terkenal?” lanjutnya.“Fine. Tapi jangan barter integritas. Beauty fades, fame flaky. Reputasi jurnalis itu long game.”
Aku tersenyum pahit. “Jadi tetap menulis?”
“Always,”Jawabannya. “Menulis adalah ibadah yang sunyi. Terkadang tidak diapresiasi, terkadang dihina. Namun jika kamu konsisten, keberanianmu menjadi nilai yang berharga.”
Kopi ku tinggal sedikit, menunjukkan dasar cangkir yang warnanya tidak lagi putih. Namun pikiranku lebih jernih. Mungkin aku belum kaya. Belum terkenal. Tapi aku masih berdiri. Masih menulis. Dan ternyata, hal itu sudah cukup kuat untuk hari ini.
“Thanks, bro,” kata gue.
“Anytime, sis,” jawab Manggala. “Open the way.”***
