Outline:
Info– Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), AB. Widyanta, menyangkal pernyataan KDM yang menganggap kebohongan pedagang es kue viral, Suderajat, hanya sebagai masalah moral pribadi. Menurutnya, pendekatan tersebut terlalu mempermudah isu dan menyembunyikan kegagalan negara dalam melindungi warga secara struktural.
“Alih-alih memperbaiki sistem serta menjaga mekanisme perlindungan bagi seluruh warga negara, isu-isu tersebut dialihkan ke ranah moral publik. Sampai-sampai kota kembali diberatkan dengan tanggung jawab terkait etika, tentang cara hidup yang benar,” kata Widyanta saat dihubungi Info, Jumat (30/1).
Dari perspektif sosiologis, ia menjelaskan bahwa hubungan kekuasaan yang muncul dalam kasus tersebut justru menunjukkan bagaimana negara tidak mampu hadir secara struktural. Rasa empati masyarakat kemudian berperan sebagai pengganti sementara dari tanggung jawab institusi negara, sehingga masalah tidak dapat dilihat secara hitam-putih.
Menurut Widyanta, ruang publik saat ini telah diambil alih oleh media dan media sosial yang menciptakan apa yang dikenal sebagai ekonomi perhatian. Dalam situasi ini, popularitas sering kali mengalihkan fokus dari akar masalah ke penilaian moral individu.
Widyanta menganggap fenomena ini sebagai krisis dalam pengelolaan keadilan di masyarakat yang berbasis pada tontonan. Oleh karena itu, isu ini tidak dapat disederhanakan hanya menjadi masalah mentalitas atau etika individu, melainkan harus ditujukan pada cara kekuasaan bekerja, bagaimana media membentuk narasi peristiwa, serta bagaimana masyarakat membangun rasa empati.
Widyanta juga menyebutkan mengenai modal simbolis yang muncul dari rasa simpati masyarakat. Dorongan moral untuk membantu sering kali memicu dukungan dan sumbangan, tetapi dinamika ini tidak dapat dipisahkan dari kenyataan ruang publik digital yang penuh perhatian.
“Maka kita tidak bisa menyalahkan orang tua itu yang tidak jujur. Secara moral mungkin bisa, tetapi tentu tidak semudah itu, karena inilah dinamika sosial ruang publik di era digital,” tutupnya.
KDM Murka Dibohongi Suderajat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menunjukkan kemarahan dengan menggebrak meja terhadap pedagang es kue, Suderajat, yang viral setelah difitnah dan diintimidasi oleh oknum aparat kepolisian dan TNI karena dituduh menjual es berbahan spons. Kemarahan KDM diduga disebabkan oleh pernyataan-pernyataan Suderajat yang tidak jujur.
Baru-baru ini berkaitan dengan tempat tinggalnya yang sebelumnya ia akui masih menyewa, padahal memiliki rumah sendiri. Ia bahkan pernah menerima bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Fakta ini memicu kemarahan KDM yang langsung mengetuk meja dan menanyakan kebohongan berulang dari Suderajat.
Peristiwa tersebut terjadi ketika KDM menelusuri kebenaran status tempat tinggal Suderajat melalui pertemuan langsung dengan Ketua RW Suderajat. Ia menyatakan bahwa rumah yang ditinggali Suderajat adalah milik sendiri, bukan menyewa seperti yang selama ini dikabarkan.
“Rumah sendiri, Pak. Tanahnya juga tanah sendiri,” kata Ketua RW Suderajat di depan KDM, dilaporkan dari kanal YouTube-nya, Jumat (30/1).
KDM yang sejak awal mengetahui bahwa Suderajat hidup dalam keterbatasan dan hanya menyewa rumah, langsung merespons dengan tegas. Ia mengklaim bahwa Suderajat memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
“Babeh bilang menyewa, tapi itu dusta! Mengapa terus berbohong?” kata KDM dengan nada tinggi sambil mengatur kembali posisi duduknya.
