Detik-detik Literasi di Gang Stadion Timur Semarang, Berjuang Meski Berbeda

Info, SEMARANG –Jalan Stadion Timur, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, terlihat seperti jalan biasa. Tidak ada rak kaca atau papan besar yang menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan surga kecil bagi para pencinta buku. Namun, setelah melangkah lebih jauh, deretan kios kecil segera menyambut. Tumpukan buku berdiri kaku, sebagian dibungkus plastik, sebagian lainnya dibiarkan terbuka dengan […]

Info, SEMARANG –Jalan Stadion Timur, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah, terlihat seperti jalan biasa.

Tidak ada rak kaca atau papan besar yang menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan surga kecil bagi para pencinta buku.

Namun, setelah melangkah lebih jauh, deretan kios kecil segera menyambut.

Tumpukan buku berdiri kaku, sebagian dibungkus plastik, sebagian lainnya dibiarkan terbuka dengan warna kertas yang mulai memudar.

Bau kertas usang bercampur debu jalan. Judul-judul buku saling tumpang tindih, mulai dari novel, buku pelajaran, hingga bacaan mengenai filsafat dan politik.

Di tengah tumpukan tersebut, dua perempuan berdiri cukup lama. Mereka memperhatikan setiap buku secara satu per satu, membuka halamannya, membaca ringkasan di bagian belakang sampul, kemudian mengembalikannya dengan hati-hati.

Di sudut kiri salah satu toko, sebuah buku berlubang hijau menarik perhatian. Judulnya terpampang jelas, Sejarah dan Kesadaran Kelas karya Georg Lukacs.

Salah satu perempuan yang memiliki rambut sebahu langsung mengambilnya dan menyerahkannya kepada pedagang.

“Berapa harganya, Pak?” tanyanya, Jumat (30/1/2026).

Lima puluh ribu, jawab pedagang tanpa banyak basa-basi.

Perempuan tersebut mengangguk, mengambil uang dari dompetnya, lalu memasukkan buku ke dalam tas kainnya.

Namanya Dinda Kirana, penduduk Semarang yang sengaja datang untuk mencari buku yang ingin ia kumpulkan.

“Di sini harganya masih bisa ditekuk. Meskipun barang bekas, banyak yang langka,” katanya sebelum beralih ke lapak lain.

Untuk Dinda, Jalan Stadion Timur bukan hanya lokasi untuk membeli buku murah. Ia menjadikannya kebiasaan harian.

Setiap bulan, ia melintasi jalan sempit itu, berhenti di setiap warung, berharap menemukan judul yang selama ini dia cari.

“Walaupun bekas, isinya tetap membanggakan. Rasanya berbeda ketika menemukan buku langsung,” katanya sambil tersenyum.

Jalan Stadion Timur memang dikenang oleh warga Semarang sebagai kawasan yang terkenal dengan buku.

Pada awal tahun 2000-an, wilayah ini pernah mencapai puncak kejayaannya. Gerai-gerai berderet panjang, pengunjung datang bergantian, dan aktivitas perdagangan terjadi hampir tanpa henti.

Andik Irawan, penduduk Gajahmungkur, masih menyimpan kenangan tentang masa lalu.

Menurutnya, Jalan Stadion Timur dahulu menjadi tempat yang diminati oleh siapa pun yang mencari buku dengan harga murah.

“Dari para dosen hingga mahasiswa sering mengunjungi Jalan Stadion Timur. Dulu belum ada internet seperti sekarang. Buku menjadi yang utama. Jika ingin mencari buku murah, maka pergi ke Stadion Timur,” kenangnya.

Dulunya, buku menjadi sarana utama untuk mendapatkan informasi. Mesin pencari belum tersedia dengan mudah, dan ponsel canggih belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Toko buku menjadi tempat bertanya sekaligus belajar.

Waktu berlalu. Internet berkembang pesat. Ponsel canggih menggantikan rak buku di banyak rumah. Dampaknya terasa di gang sempit tersebut.

Harri, seorang pedagang buku, menyatakan masa puncak usaha toko bukunya terjadi antara tahun 2003 hingga 2019.

Setelah wabah Covid-19, jumlah pengunjung mengalami penurunan yang sangat signifikan. Banyak pedagang memutuskan untuk menyerah.

“Sekarang tersisa belasan kios. Dulu bisa mencapai 70 kios,” katanya.

Menurut Harri, penurunan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Perlahan, jumlah pembeli menurun. Orang-orang lebih memilih membaca melalui layar. Sebagian lainnya membeli buku secara online tanpa perlu datang ke toko.

Namun, ia masih memiliki harapan. Pelanggan yang setia tetap datang, meskipun tidak seberapa sering seperti dahulu. Mereka biasanya mencari buku novel, buku pelajaran, atau karya nonfiksi yang populer.

“Jika dikatakan hilang, tidak juga. Buku fisik masih dicari. Masih ada yang menyukai membuka halaman-halaman,” katanya.

Di tengah kesibukan yang semakin jarang, Harri tetap menjalankan usahanya setiap hari.

Ia mengatur ulang tumpukan buku agar lebih mudah dilihat. Kadang-kadang ia menghapus debu yang melekat pada sampulnya.

Bagi para pedagang, lapak-lapak tersebut bukan sekadar tempat menjual barang. Di sana tersimpan kenangan masa lalu, seperti saat ramai, percakapan panjang dengan pembeli, mahasiswa yang datang membawa daftar judul, hingga guru yang mencari buku pelajaran bekas.

Sekarang, suasana memang tidak lagi seperti dulu. Gang terasa lebih sepi. Namun, sesekali, suara langkah pengunjung masih terdengar. Mereka berhenti, membungkuk, dan mulai mengelilingi tumpukan buku seolah-olah sedang menjelajahi arsip masa lalu.

Di tengah kemajuan teknologi dan laju informasi yang sangat cepat, Jalan Stadion Timur tetap mempertahankan cara khasnya sendiri.

Ia tidak lagi berisik, tetapi masih hidup. Di sana, buku-buku menunggu dengan sabar, berharap ada tangan yang ingin membukanya.