Kementerian ESDM Umumkan Potensi Baterai Domestik Capai 392 GWh pada 2034

Potensi Penggunaan Baterai di Indonesia Mencapai 392 GWh pada Tahun 2034 Indonesia memiliki potensi besar dalam penggunaan baterai, baik untuk kendaraan listrik (EV) maupun sistem penyimpanan energi baterai (BESS). Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penggunaan baterai di Indonesia dapat mencapai 392 gigawatt hours (GWh) pada tahun 2034. Angka ini menunjukkan […]

Potensi Penggunaan Baterai di Indonesia Mencapai 392 GWh pada Tahun 2034

Indonesia memiliki potensi besar dalam penggunaan baterai, baik untuk kendaraan listrik (EV) maupun sistem penyimpanan energi baterai (BESS). Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penggunaan baterai di Indonesia dapat mencapai 392 gigawatt hours (GWh) pada tahun 2034. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam sektor energi terbarukan.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa hingga tahun 2027, pihaknya menargetkan penggunaan baterai bisa mencapai 60 gigawatt. Dalam acara International Battery Summit (IBS) 2025, ia menjelaskan bahwa target ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem baterai mobil yang lebih kuat.

“Kami menargetkan hingga 2027, penggunaan baterai mobil akan mencapai sekitar 55 hingga 60 gigawatt,” ujar Bahlil. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap semua negara yang ingin bekerja sama dalam membangun ekosistem baterai EV di dalam negeri. Bahkan, ia berjanji akan mengurus sendiri kebutuhan investasi ke depannya tanpa membeda-bedakan asal negara.

Stimulus untuk Peningkatan Penggunaan Baterai

Peningkatan penggunaan baterai dan BESS di Indonesia didorong oleh beberapa stimulus yang telah diterapkan. Salah satunya adalah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Selain itu, peningkatan penggunaan mobil dan motor listrik serta peluang ekspor listrik ke Singapura turut mendorong pertumbuhan sektor ini.

Tidak hanya itu, ada juga program pembangunan 100 GW PLTS di 80.000 Koperasi Merah Putih (KMP). Hal ini memberikan kontribusi besar bagi pengembangan infrastruktur energi terbarukan. Bahlil juga menyebutkan bahwa potensi pasar internasional baterai untuk kendaraan listrik mencapai 3.500 GWh. Didukung oleh potensi investasi sebesar US$ 500 miliar pada 2030.

“Nah, jika baterainya untuk listrik, maka potensinya jauh lebih besar lagi,” tambahnya.

Proyek Baterai EV Terintegrasi melalui IBC

Saat ini, Indonesia sedang menjalankan sejumlah proyek baterai EV terintegrasi melalui perusahaan joint venture (JV) BUMN, Indonesia Battery Corporation (IBC). Saham IBC dipegang oleh empat perusahaan besar yaitu Antam Tambang Tbk, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, serta PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) masing-masing sebesar 25%.

IBC bersama dengan konsorsium Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL), yang merupakan bagian dari Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), saat ini tengah menggarap proyek baterai EV bernama Proyek Dragon. Kerja sama ini terwujud dalam sejumlah usaha patungan.

Di sisi hulu, terbentuk tiga usaha patungan antara lain PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL). Selanjutnya, usaha patungan di sisi RKEF dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%. Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau HPAL.

Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang baterai. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam membangun ekosistem baterai yang lengkap dan berkelanjutan.