Penyakit Kardiovaskular Ancaman Kematian Tinggi, Teknologi Deteksi Awal Dibutuhkan

Peran Kolaborasi dan Teknologi dalam Mengatasi Penyakit Kardiovaskular di Indonesia Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 651.000 kematian setiap tahun berasal dari berbagai kondisi seperti stroke, penyakit jantung koroner, serta hipertensi dengan komplikasi jantung. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan […]

Peran Kolaborasi dan Teknologi dalam Mengatasi Penyakit Kardiovaskular di Indonesia

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 651.000 kematian setiap tahun berasal dari berbagai kondisi seperti stroke, penyakit jantung koroner, serta hipertensi dengan komplikasi jantung. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengobatan.

Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan kolaborasi antarprofesi medis serta pemanfaatan teknologi deteksi dini. Salah satu inovasi yang semakin penting adalah penggunaan USG portabel (POCUS), yang memungkinkan diagnosis awal penyakit jantung bahkan di wilayah terpencil tanpa harus menunggu dokter spesialis. Inisiatif ini menjadi fokus utama dalam konferensi ilmiah tahunan CARES 2025, yang diselenggarakan oleh Heartology Cardiovascular Hospital.

CEO Heartology, dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, menekankan pentingnya platform seperti CARES 2025 dalam memperbarui pengetahuan para dokter umum dan spesialis tentang kasus-kasus kardiovaskular. Menurutnya, CARES tidak hanya menjadi wadah pembelajaran, tetapi juga ajang berbagi pengalaman nyata dari praktik klinis. Salah satu poin penting dalam konferensi ini adalah pelatihan penggunaan USG portabel yang mampu memberikan akses layanan kesehatan yang lebih luas.

“Heartology membekali para dokter umum dengan keterampilan teknologi POCUS agar deteksi awal bisa dilakukan lebih luas. Ini strategi penting agar tidak semua pasien harus menunggu atau pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan,” ujar dr. Ridwan.

Ia juga menyebut bahwa dengan teknologi mutakhir seperti pulse field ablation dan keahlian tim medis dalam negeri, Indonesia mampu menjadi rujukan layanan jantung berkualitas. Konferensi bertajuk “Heart & Vessel Dialogues: Case Sharing Across Cardiovascular Medicine” ini digelar di Ballroom Mandarin Oriental, Jakarta, dan menghadirkan 300 peserta simposium serta 165 peserta workshop. CARES 2025 dirancang lebih interaktif dibanding tahun sebelumnya, dengan sesi berbagi kasus nyata dari lapangan, kompetisi Abstract Sharing Case, hingga diskusi mendalam tentang penyakit jantung koroner kompleks, intervensi penyakit jantung struktural, serta penanganan aorta rumit.

Ketua Panitia CARES 2025, dr. Adrianus Kosasih, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi jembatan antara teori kedokteran dan praktik klinis sehari-hari. Ia menegaskan bahwa setiap dokter di mana pun berada memiliki kontribusi besar untuk meningkatkan penanganan penyakit jantung di Indonesia.

Workshop CARES 2025 juga membekali peserta dengan kemampuan membaca EKG dalam kondisi darurat, menggunakan Holter monitor, serta mendeteksi kelainan jantung melalui USG portabel. Semua sesi dipandu oleh para spesialis dari Heartology, termasuk dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) yang kerap menangani pasien gagal terapi dari luar negeri.

Deretan pembicara CARES 2025 melibatkan para ahli di bidang kardiologi dan bedah toraks seperti Dr. dr. Dafsah Arifa Juzar, Sp.JP(K), Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Dr. Dicky A. Hanafy, Sp.JP(K), hingga dr. Sunu B. Raharjo, Sp.JP(K), PhD. Mereka turut menegaskan pentingnya kontribusi bersama untuk menciptakan sistem pelayanan kardiovaskular nasional yang berkualitas dan merata.

Heartology berharap CARES 2025 bukan sekadar forum diskusi, tapi juga momentum menciptakan cara pandang baru dalam menangani penyakit jantung di Indonesia. “Di dunia kedokteran, kita tidak bisa bekerja sendiri. Perubahan besar hanya bisa tercapai ketika kita duduk bersama dan bicara tentang praktik nyata di lapangan,” tutup dr. Ridwan.