Outline:
Info– Media sosial dipenuhi dengan foto pasangan yang bahagia: unggahan ulang tahun pernikahan,couple outfit, hingga pesan cinta yang terdengar sempurna. Secara sekilas tampak romantis dan menarik. Namun, psikologi justru melihat peristiwa ini dari sudut pandang yang berbeda.
Di balik tampilan yang terlihat selaras, kebiasaan sering membagikan hubungan di media sosial sering kali tidak berasal dari rasa aman, tetapi dari keinginan tersembunyi akan pengakuan dan validasi. Banyak pasangan secara tidak sadar sedang mencari bukti bahwa hubungan mereka dalam kondisi baik.
Dilansir dari laman Geediting, Jumat (30/1), berikut delapan isu emosional yang kerap dihadapi pasangan yang terlalu sering membagikan momen kebersamaan mereka di media sosial.
1. Mengalami Ketidakstabilan dalam Hubungan
Penelitian dari Universitas Northwestern menemukan bahwa pasangan yang paling sering membagikan pasangannya di media sosial justru cenderung merasa kurang aman dalam hubungan mereka. Fenomena ini dikenal sebagairelationship visibility.
Semakin besar keinginan untuk memperlihatkan hubungan kepada masyarakat, semakin tinggi kemungkinan adanya ketidakamanan di baliknya. Hubungan yang benar-benar stabil biasanya tidak memerlukan pembuktian terus-menerus.
2. Tergantung pada Pemeriksaan Eksternal
Misalnya, komentar, like, dan emoji hati berperan sebagai bentuk dukungan emosional sementara. MenurutPsychology Todaymedia sosial sering kali dimanfaatkan untuk mengurangi ketidakpastian terhadap diri sendiri maupun hubungan.
Masalahnya, validasi ini bersifat sementara. Setelah efeknya berakhir, muncul kembali kebutuhan untuk mengunggah ulang agar mendapatkan pengakuan yang baru.
3. Kehormatan Diri Berkaitan dengan Status Hubungan
Psikologi mengenal istilah Relationship Contingent Self-Esteem(KSE), yaitu keadaan di mana harga diri seseorang sangat tergantung pada kualitas hubungan asmara mereka.
Orang yang memiliki tingkat kesadaran diri emosional (RCSE) yang tinggi cenderung memperlihatkan hubungan mereka agar meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa kehidupan mereka “berjalan dengan baik”. Ketika terjadi masalah kecil dalam hubungan, rasa cemas mereka meningkat secara signifikan.
4. Mengalami rasa takut ketinggalan (FOMO)
FOMO bukan hanya terkait dengan pesta atau liburan, tetapi juga mengenai hubungan. Media sosial penuh dengan gambaran pasangan yang terlihat hidup sempurna: liburan mewah, kencan romantis, serta kejutan yang menyenangkan.
Paparan ini membuat pasangan lain merasa hubungan mereka tidak menarik. Akhirnya, unggahan dibuat bukan untuk menggambarkan cinta, tetapi agar tidak ketinggalan dari pasangan lain.
5. Menyembunyikan Jarak Emosional dalam Kehidupan Nyata
Sayangnya, pasangan yang tampak paling akrab di media sosial seringkali mengalami ketidakcocokan emosional dalam kehidupan nyata.
Penelitian dari Jurnal Terapi Perkawinan dan Keluargamenunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengurangi kualitas waktu yang dihabiskan bersama pasangan, menyebabkan jarak emosional, serta memperparah komunikasi.
6. Menghadapi Rasa Irhas dan Masalah Kepercayaan
Media sosial sering memicu rasa cemburu: komentar yang tidak jelas, jumlah pengikut yang bertambah, atau interaksi dengan mantan. Bagi individu yang mengalami kecemasan terhadap keterikatan (anxious attachment), hal ini menjadi penyebab perselisihan.
Akibatnya, pasangan justru semakin kerap membagikan momen kebersamaan sebagai bentuk “klaim” di muka umum dan upaya mencari rasa aman.
7. Menciptakan Cerita Hubungan Palsu
Setiap hubungan pasti mengalami perselisihan dan masa-masa berat. Namun, di media sosial, yang ditampilkan hanyalah sisi terindahnya.
Pasangan yang sering kali membagikan kehidupan mereka di media sosial cenderung membentuk sebuah realitas yang tidak nyata. Akhirnya, mereka justru terjebak dalam gambaran itu dan merasa kewalahan ketika kenyataan tidak seindah yang tampak.
8. Kehilangan Keintiman Privat
Kedekatan yang autentik sering muncul di saat tanpa adanya kamera: percakapan diam, tawa lembut, atau kebersamaan yang sederhana.
Saat setiap momen harus dipublikasikan, keakraban berubah menjadi tampilan. Perhatian beralih dari kehadiran emosional menuju sudut kamera, filter, dan keterangan, sehingga kedekatan yang asli perlahan menghilang.
