Outline:
Penelitian Terbaru Mengungkap Ketidakpastian Keberadaan Molekul Kehidupan di Eksoplanet K2-18b
K2-18b, sebuah eksoplanet yang terletak sekitar 120 tahun cahaya dari Bumi, telah menjadi perhatian besar dalam pencarian tanda-tanda kehidupan di luar sistem tata surya. Namun, hasil pengamatan terbaru menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) menunjukkan bahwa harapan untuk menemukan indikasi kehidupan di sana semakin memudar.
Pada April 2025, tim peneliti yang dipimpin oleh Nikku Madhusudhan dari Universitas Cambridge mengklaim menemukan bukti adanya molekul dimetil sulfida (DMS) dan dimetil disulfida (DMDS) di atmosfer K2-18b. Di Bumi, kedua molekul ini hanya dihasilkan oleh kehidupan, sehingga temuan ini sempat membuat banyak orang berharap bahwa planet ini mungkin memiliki bentuk kehidupan. Madhusudhan menyebut temuan tersebut sebagai “petunjuk pertama yang kita lihat dari dunia alien yang mungkin dihuni.”
Namun, analisis ulang oleh tim peneliti lain dengan pendekatan statistik yang berbeda tidak menemukan bukti kuat tentang keberadaan molekul tersebut. Meskipun Madhusudhan dan timnya melakukan analisis lebih mendalam, mereka tetap merasa bahwa DMS adalah penjelasan terbaik untuk data yang ada.
Renyu Hu dari California Institute of Technology bersama Madhusudhan kemudian menganalisis pengamatan baru JWST terhadap K2-18b. Hasilnya kembali menunjukkan ketiadaan bukti statistik yang memadai. “Makalah ini tidak memberikan bukti konklusif untuk keberadaan molekul ini di atmosfer,” kata Hu. Pengamatan kali ini menggunakan kamera inframerah-dekat JWST untuk mempelajari cahaya dari bintang K2-18b yang melewati atmosfer planet.
Beberapa model atmosfer yang memasukkan DMS memang dapat menjelaskan data sedikit lebih baik dibandingkan model tanpa DMS, namun bukti statistiknya tetap lemah. “Ketergantungan pada model ini menunjukkan bahwa sinyalnya sangat lemah, jika memang ada sinyal sama sekali,” kata Hu. “Saya hanya akan berhati-hati.”
Madhusudhan mengakui bahwa bukti yang ada belum cukup untuk menyatakan adanya deteksi DMS. Namun, ia menyebut ada alasan untuk membandingkan data terbaru dengan pengamatan JWST pada 2023, bukan data inframerah-tengah yang digunakan April lalu. “Secara statistik murni, berdasarkan apa yang kami laporkan dalam makalah, datanya secara objektif menunjukkan bukti yang sedikit lebih tinggi untuk DMS,” kata Madhusudhan.
“Masih bisa jadi ada molekul lain yang menyerupai DMS,” ujarnya menambahkan. “Namun kita jelas masih belum bisa membuat klaim yang kuat.”
Luis Welbanks dari Arizona State University menyatakan bahwa makalah ini sangat jelas menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk dimetil sulfida. Hal serupa disampaikan Sara Seager dari Massachusetts Institute of Technology yang mengatakan bahwa tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan tim tidak dapat dianggap sebagai deteksi.
Jake Taylor dari Universitas Oxford menilai, “Kita tampaknya sampai pada akhir perdebatan tentang apakah DMS terdeteksi pada tingkat yang dapat diukur di atmosfer [K2-18b], karena peningkatan presisi tidak membantu mendeteksinya dengan signifikansi yang lebih tinggi.”
Dalam penelitian terbaru ini, Hu dan timnya juga menemukan bahwa pada atmosfer kaya hidrogen seperti K2-18b, terdapat jalur kimia yang memungkinkan pembentukan DMS tanpa adanya kehidupan. “Ini membantu kita mempersempit molekul mana yang bisa secara eksklusif menjadi biosignature di atmosfer eksoplanet, dan tampaknya model ini menyingkirkan DMS sebagai biosignature eksklusif,” kata Taylor.
Meski demikian, para ilmuwan sepakat bahwa K2-18b memiliki kandungan air yang melimpah. Hu dan timnya menemukan bukti kuat adanya metana dan karbon dioksida yang mengindikasikan keberadaan air. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan apakah air tersebut berada dalam bentuk lautan, uap di atmosfer, atau terperangkap di interior planet.
