Terlalu Pamer Pasangan di Medsos? Ini 8 Masalah Emosional yang Terungkap

Info.CO– Media sosial kini dipenuhi unggahan pasangan yang terlihat sempurna. Mulai dari foto perayaan anniversary, pakaian couple, hingga caption cinta yang terdengar manis dan romantis. Secara sekilas terlihat bahagia, namun psikologi melihat kebiasaan memperlihatkan hubungan di media sosial dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih mencerminkan hubungan yang aman dan stabil, sering kali unggahan tentang kebersamaan […]

Info.CO– Media sosial kini dipenuhi unggahan pasangan yang terlihat sempurna. Mulai dari foto perayaan anniversary, pakaian couple, hingga caption cinta yang terdengar manis dan romantis. Secara sekilas terlihat bahagia, namun psikologi melihat kebiasaan memperlihatkan hubungan di media sosial dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih mencerminkan hubungan yang aman dan stabil, sering kali unggahan tentang kebersamaan justru berkaitan dengan keinginan akan pengakuan dan validasi. Banyak pasangan secara tidak sadar memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk membuktikan bahwa hubungannya dalam keadaan baik.

Dikutip dari situs Geediting, berikut delapan masalah psikologis yang sering dirasakan pasangan yang terlalu sering membagikan hubungannya di jejaring sosial.

1. Merasa Tidak Nyaman dalam Hubungan

Penelitian dari Universitas Northwestern menemukan bahwa pasangan yang paling sering membagikan momen bersama cenderung mengalami rasa tidak aman. Fenomena ini dikenal sebagairelationship visibility.

Semakin kuat keinginan untuk memperlihatkan hubungan kepada masyarakat, semakin besar kemungkinan adanya rasa cemas di baliknya. Hubungan yang stabil biasanya tidak memerlukan pembuktian berulang.

2. Tergantung pada Pemeriksaan Eksternal

Misalnya, komentar dan emoji berupa hati bisa memberikan dukungan emosional sementara. Menurut Psychology Today, media sosial sering digunakan untuk mengurangi ketidakpastian terhadap diri sendiri maupun hubungan.

Masalah timbul ketika masa berlaku validasi tersebut berakhir, kemudian muncul dorongan untuk mengunggah kembali guna memperoleh pengakuan yang baru.

3. Kehargaan Diri Terkait dengan Hubungan

Dalam psikologi dikenal istilah Relationship Contingent Self-Esteem(KSE), yaitu keadaan di mana harga diri seseorang sangat tergantung pada kualitas hubungan asmara mereka.

Orang yang memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi cenderung menunjukkan hubungan mereka agar meyakinkan diri sendiri dan lingkungan sekitar bahwa kehidupan mereka berjalan dengan baik. Ketika muncul masalah kecil, rasa cemas bisa meningkat secara signifikan.

4. Tertangkap dalam Rasa Takut Kehilangan Kesempatan (FOMO)

FOMO bukan hanya terkait dengan liburan atau pesta, tetapi juga mengenai hubungan. Media sosial penuh dengan gambaran pasangan yang terlihat sempurna: liburan mewah, kencan romantis, dan kejutan yang menarik.

Tampilan ini membuat sebagian pasangan merasa hubungan mereka tidak menarik, sehingga unggahan dibuat agar tidak ketinggalan dari orang lain.

5. Mengatasi Jarak Emosional dalam Kehidupan Nyata

Sayangnya, pasangan yang terlihat paling dekat di media sosial seringkali justru mengalami kesenjangan emosional dalam kehidupan nyata.

Riset dalam Jurnal Terapi Perkawinan dan Keluargamenunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengurangi kualitas waktu bersama, melemahkan komunikasi, serta memperluas jarak emosional.

6. Disebabkan oleh Rasa Cemburu dan Masalah Kepercayaan

Komentar yang tidak jelas, pengikut yang baru, serta komunikasi dengan mantan sering menimbulkan rasa iri. Bagi individu dengananxious attachment, hal ini dapat memicu perselisihan.

Seringkali, kebersamaan justru semakin sering ditunjukkan sebagai bentuk klaim publik dan upaya mencari rasa aman.

7. Membuat Cerita Hubungan Palsu

Setiap hubungan pasti menghadapi perbedaan. Namun di media sosial, yang terlihat hanyalah sisi paling menarik.

Pasangan yang sering membagikan momen kebersamaan berisiko menciptakan ilusi dan merasa kewalahan jika kehidupan nyata tidak seindah yang terlihat.

8. Kehilangan Keintiman Privat

Kedekatan yang asli sering muncul tanpa adanya kamera, filter, atau tulisan penjelas.

Saat setiap momen harus diungkapkan, keakraban berubah menjadi pementasan. Perhatian beralih dari keterhubungan emosional menjadi penampilan visual, sehingga hubungan yang asli secara perlahan menghilang.jpg)