Warga dan Pedagang Guci Tegal Minta Pancuran 13 Dibebaskan, Bupati Janjikan Sampaikan Aspirasi ke Kemenhut

Info, SLAWI –Persoalan mengenai keinginan untuk memberikan gratis Pancuran 13 Guci, Kabupaten Tegal kembali muncul seperti dulu, bahkan saat ini muncul dalam bentuk ajakan yang tercantum pada spanduk. Berdasarkan pantauan Infopada pada hari Kamis (29/1/2026), spanduk dengan tulisan tuntutan “Gratiskan Pancuran 13 Guci” terpajang di bangunan yang masih tersisa di lokasi tersebut. Di banner tertera […]

Info, SLAWI –Persoalan mengenai keinginan untuk memberikan gratis Pancuran 13 Guci, Kabupaten Tegal kembali muncul seperti dulu, bahkan saat ini muncul dalam bentuk ajakan yang tercantum pada spanduk.

Berdasarkan pantauan Infopada pada hari Kamis (29/1/2026), spanduk dengan tulisan tuntutan “Gratiskan Pancuran 13 Guci” terpajang di bangunan yang masih tersisa di lokasi tersebut.

Di banner tertera “Pemandian air panas Guci merupakan warisan sejarah yang perlu kita jaga dan nikmati bersama, bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Mari kita bangun dan kembalikan seperti dulu, bebaskan Pancuran 13.”

Keinginan untuk mendapatkan air pancuran 13 secara gratis seperti dulu juga disampaikan oleh para pedagang di kawasan Pancuran 5 yang merupakan warga asli Desa Guci, Rihati.

Rihati menceritakan kondisi para pedagang di kawasan Guci saat ini semakin sepi, bahkan sebelum bencana banjir bandang terjadi.

Disebutkan oleh Rihati, keadaan yang sepi pengunjung disebabkan oleh Pancuran 13 yang menjadi ikon wisata mulai menerapkan biaya masuk, bahkan saat ini tarif tiket sebesar Rp27.500 per orang pada hari libur.

Rihati sering kali mengajak pengunjung untuk mampir ke kios miliknya yang menjual berbagai jenis makanan, minuman, dan gorengan, namun pengunjung justru mengeluh kepada Rihati.

Saat para pengunjung menawarkan untuk mampir ke tempat saya untuk makan, mereka justru mengeluh. Bahkan tidak sampai pada makan, uang mereka sudah habis hanya untuk membayar tiket masuk Guci, Pancuran 13 belum termasuk wahana lainnya. Kami para pedagang sangat terkena dampak yang luar biasa,” kata Rihati, dalam Info.

Sebagai pedagang yang telah berdagang di kawasan Guci sejak tahun 2008, dari hati yang paling dalam, Rihati berharap setelah Pancuran 13 diperbaiki secara gratis seperti dahulu kala.

Hanya perlu membayar biaya masuk tiket, dan kemudian pengunjung dapat sekaligus berendam atau mandi air panas di Pancuran 13 dan 5 Guci.

Oleh karena itu, pengunjung masih memiliki sisa uang yang dapat digunakan untuk membeli makanan di warung pedagang di kawasan Guci.

Pengunjung dapat berbelanja dan akhirnya para pedagang kembali mendapatkan penghasilan atau pendapatan. Kondisi saat ini biasanya hanya menunggu pembeli. Mayoritas rombongan atau kelompok jarang membeli,” jelas Rihati.

Dikonfirmasi oleh wartawan setelah menghadiri acara istigasah dan doa bersama, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan, sebelum kejadian banjir bandang kedua atau sekitar Desember 2025, pihaknya telah menerima banyak masukan dari masyarakat yang meminta agar Pancuran 13 kembali diberikan secara gratis.

Masyarakat berharap Pancuran 13 Guci dapat kembali diberikan secara gratis, sebelum dielola oleh PT Barokah bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Bupati Ischak menegaskan bahwa pihaknya akan menyampaikan keluhan masyarakat kepada Kementerian Kehutanan karena BKSDA berada di bawah tanggung jawabnya.

“Kami (Pemkab Tegal) akan menyampaikan aspirasi masyarakat, terlebih ada momen bencana yang terjadi. Saya juga telah melihat spanduk yang terpasang di kawasan Pancuran 13,” tegas Bupati Ischak.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni menambahkan, pihaknya bersama perwakilan masyarakat Guci serta Pemerintah Kabupaten Tegal rencananya akan mengunjungi BKSDA Provinsi Jawa Tengah untuk memohon kebijakan terbaik terkait Pancuran 13.

Mengingat Pancuran 13 dahulunya memang gratis seperti Pancuran 5 yang dikelola oleh Pemkab Tegal.

Air terjun 13 awalnya gratis dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat maupun masyarakat umum baik untuk mandi, berendam, bahkan sebagai tempat pengobatan.

“Harapan kami, terkait Pancuran 13, ada solusi terbaik antara BKSDA sebagai pihak yang mengelola. Skema yang akan diajukan bagaimana agar Pancuran 13 dapat kembali beroperasi, namun tetap gratis bagi masyarakat, khususnya warga Desa Guci dan Desa Rembul,” tambah Uwes. (dta)