Kisah SBY yang Jual Sepeda demi Musik dan Teman

Susilo Bambang Yudhoyono yang juga dikenal sebagai SBY atau Sus muda terkenal sebagai teman yang setia. Ia bahkan pernah menjual sepedanya untuk memenuhi kebutuhan makan temannya dan bermain musik. Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah Intisari edisi November 2004 dengan judul “Susilo Bambang Yudhoyono: Menjual Sepeda untuk Kebutuhan Teman” | Penulis: Tjahjo Widyasmoro — Intisari […]

Susilo Bambang Yudhoyono yang juga dikenal sebagai SBY atau Sus muda terkenal sebagai teman yang setia. Ia bahkan pernah menjual sepedanya untuk memenuhi kebutuhan makan temannya dan bermain musik.

Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah Intisari edisi November 2004 dengan judul “Susilo Bambang Yudhoyono: Menjual Sepeda untuk Kebutuhan Teman” | Penulis: Tjahjo Widyasmoro

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.

Intisari-Online.com – Banyak orang mengenal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai sosok yang berwibawa dan ramah, yang kemudian menjadi Presiden RI ke-6. Namun, bagaimana kisah masa kecilnya saat masih tinggal di desa, yaitu Pacitan, Jawa Timur?INTISARImengungkapnya melalui keterangan beberapa orang yang dekat pada masa itu.

Pada saat itu, menjelang akhir tahun 2004. Rumah tua berwarna putih tersebut berada di Desa Blumbang, Kelurahan Ploso, di tengah Kota Pacitan. Bentuknya seperti joglo, mirip dengan rumah-rumah kelas menengah di daerah pedesaan Jawa pada umumnya. Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang dicampurgedek(anyaman bambu) dengan tiang-tiang kayu jati yang sudah rusak di beberapa bagian. Langit-langitnya tidak memiliki plafon sehingga genting yang ditambal dengan plastik di beberapa sisi terlihat jelas. Halamannya luas dan berlantai pasir.

Tidak ada yang tahu secara pasti kapan rumah tersebut dibangun. Jelasnya, sejak pemilik rumah, Sastro Soejitno, lahir pada tahun 1911, bentuknya sudah seperti itu. Di desa ini, Sastro Soejitno menjabat sebagai kepala desa selama 40 tahun.

Buku, buku, dan buku

Di rumah sederhana itulah Sus, yang biasa dipanggil oleh keluarga sebagai SBY, menghabiskan sebagian masa kecil dan remajanya. Ia tinggal di rumah Soejitno sejak kelas 5 Sekolah Rakyat (SR). Ia ditempatkan di keluarga Soejitno yang merupakan pamannya itu karena ayahnya, Raden Soekotjo, yang menjabat sebagai komandan rayon militer dengan pangkat Pembantu Letnan Satu atau Peltu, sering kali harus berpindah tugas ke daerah-daerah terpencil. Tidak ada pilihan lain bagi Sus, karena saat itu sekolah menengah negeri hanya tersedia di Pacitan.

Sus tinggal di kamar dengan ukuran 2,25 x 1,80 meter, yang berada di sisi kanan depan rumah. Kamar tersebut sangat sempit, hanya cukup untuk menampung sebuah ranjang kayu dan meja belajar. Tidak ada kursi maupun lemari. Sebuah gantungan baju kuno dari kayu jati yang salah satu gantungannya rusak terletak di sudut dinding.

“Rumah ini, termasuk kamar Dik Sus, selama ini kondisinya tetap seperti ini. Tidak ada perubahan. Ya, memang kami hanya keluarga yang sederhana,” demikian ujar Endang Widowati, putri pertama Sastro Soejitno, yang pada usia tua ditugaskan untuk mengurus rumah tersebut. Artinya, Endang Sus adalah saudara sepupu.

Meski masih dipelihara, rumah tersebut kini tidak lagi dihuni. Pada beberapa kesempatan, halaman yang luas pernah digunakan sebagai tempat berkumpul para pengurus DPC Partai Demokrat Pacitan.

Di tengah suasana sederhana dan kemandirian keluarga Sastro Soejitno, Sus menjalani masa kecilnya. Meskipun menjadi anak satu-satunya, dia tidak menjadi anak yang manja atau diistimewakan. Segala kebutuhan pribadinya dikelola sendiri, termasuk mencuci dan menyetrika pakaian. Bahkan, dia juga turut membantu keluarga pakde-nya dalam mengurus rumah tangga. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, dia memiliki tugas untuk mengambil air.

Dalam kenangan Watini, istri Sastro Soejitno (saat diwawancara INTISARI yang berusia 80 tahun), Sus adalah anak yang biasa saja seperti kebanyakan anak desa. Perilakunya baik dan taat beragama. Mengenai makanan, dia tidak pernah memilih-milih. Oleh karena itu, ketika ditanya apa makanan kesukaannya saat kecil, dia kesulitan menjawabnya. Apa saja yang tersedia di meja makan akan dimakannya.

Baru setelah dewasa kita menyadari kebahagiaan Sus itukupat(ketupat – Red.) tahu, soto yang dicampur kacang tanah, danjatilan kelong(Ikan hiu yang diasap). Semua adalah makanan khas Pacitan,” kata saudara kandung Raden Soekotjo ini.

Salah satu hal yang paling dikenang oleh keluarga Sastro Soejitno adalah ketertarikan Sus terhadap buku. Setiap kesempatan di rumah, dia selalu membawa buku, baik buku pelajaran, buku cerita, maupun komik pewayangan. Terkadang, ia bahkan masih membaca sambil makan. Di kamar, aktivitas utamanya hanyalah membaca, sambil sesekali mengunyah kacang goreng sebagai camilan kesukaannya dan menikmati segelas teh manis.

Mungkin karena kebiasaan tersebut, Bambang – yang biasa dipanggil oleh teman-temannya – termasuk murid yang pintar di sekolah. Pada masa itu, sistemnya belum dikenal.ranking. Tidak diketahui apakah ia termasuk siswa terbaik di kelas saat itu. Yang jelas, selama duduk di bangku SMA jurusan ilmu alam, Bambang sering diminta untuk mengajar teman-temannya dalam beberapa mata pelajaran sulit seperti trigonometri, geometri ruang, analitis, atau bahasa Inggris. Bukan hanya dalam kelompok belajar, bahkan saat jam kosong karena tidak ada guru dia sering muncul di depan kelas.

Bisa dikatakan pada masa itu Bambang tidak belajar. Tidak menambah wawasan untuk dirinya sendiri. Malah justru mengajarkan kami yang kesulitan dalam pelajaran,” kenang Suhardjito, salah seorang teman Bambang saat di SMA namun berbeda jurusan. “Namun dia justru merasa senang. Tidak keberatan sama sekali. Justru kami yang merasa tidak nyaman.

Bambang dan teman-temannya memiliki kenangan khusus saat pertama kali masuk SMA. Karena baru berdiri dua tahun, SMA Negeri Pacitan belum memiliki gedung sendiri sehingga masih menggunakan gedung SPG dan Balai Desa. Untungnya, kepala sekolahnya, Kusnojo, cukup kreatif. Dengan meminjam truk yang dikemudikan sendiri, dia mengajak siswa-siswinya mencari batu kali. Secara bergantian mereka juga membuat bata merah.

“Bahkan terdapat satu ruang kelas yang diplester oleh anak-anak sendiri. Mengenai hasilnya, ya memang naik-turun…,” kenang Prajitno, teman Bambang yang lain, yang kelak menjadi kepala sekolah di SMA tempat ia dulu belajar.

Pemain bas betot

Selain memiliki kecerdasan dan semangat yang tinggi, rasa persaudaraan menjadi salah satu hal yang diingat oleh teman-teman Bambang ketika masih muda. Meski dikenal tekun dalam belajar, bukan berarti pemuda kurus, tinggi, dan berkulit putih bersih ini hanya terlibat dalam masalah akademik. Di luar rumah, Bambang aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, khususnya voli. Bersama teman-temannya yang ramah di Arjowinangun, ia bergabung dalam kelompok voli Klub Rajawali.

Karena tingginya postur tubuhnya, Bambang dianggap sebagai pemain yang handal.Smash-nya tajam dan lurus sehingga jarang mampu dihalangi lawan. Persatuan ini sering berlaga ke desa-desa sekitar yang berjarak puluhan kilometer. Semua perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki karena tidak ada angkutan umum.

Saat bersekolah di SMP, Bambang juga pernah aktif dalam berbagai kegiatan seni seperti teater, menulis, melukis, dan musik. Ia mengikuti sanggar seni Dahlia Pacitan dan pernah tampil dalam beberapa pertunjukan di Balai Desa. Mengenai melukis, ia pernah mempelajarinya secara serius selama beberapa waktu.

Beberapa kegiatan seni yang dilakukannya, kemampuan Bambang dalam menulis justru terlihat mencolok. Sebuah bakat yang terus diasahnya hingga kini. Karyanya dalam bentuk puisi dan cerita pendek pernah dimuat di MajalahSi KuncungIa juga menginisiasi berdirinya majalah dinding sekolah. Bakat ini berasal dari keturunan ayahnya yang sering menulis puisi-puisi dengan nuansa spiritual.

Saat duduk di SMP, Bambang pernah bergabung dengan kelompok musik Gaya Teruna. Sebuah band anak-anak yang tampil dalam beberapa acara di Pacitan. Dari sini, saat masuk SMA ia kemudian membentuk kelompok musik sendiri dan memainkan gitar bass sambil sesekali menjadi vokalis. Mendengar aktivitas Bambang, keluarganya sempat kaget, dari mana dia belajar semua itu?

Alat musik yang digunakan tergolong sederhana dan juga dipinjam. Bas yang dimainkan Bambang pada awalnya adalah bas betot untuk keroncong. Dalam hal pengaturan suara, Bambang dan temannya harus kreatif dalam memanfaatkan berbagai peralatan yang tersedia.Spulyang terhubung ke gitar, misalnya, menggunakan mikrofon lama dari telepon. Selanjutnya, pengeras suaranya memakai speakerdari radio transistor. Susunan darurat itu mereka sebutkanstil tempel.

Meski sederhana, Bambang dan teman-temannya tetappedemembawakan lagu-lagu yang sedang populer di radio pada masa itu. Seperti karya Koes Bersaudara, Dedi Damhudi, The Beatles, atau Everly Brothers. Mereka rutin mendengarkan saat lagu-lagu tersebut diputar oleh RRI Jakarta, RRI Yogyakarta, atau RRI Solo. Jika ada lagu terbaru yang diputar, mereka bersama-sama mencatat dan menghafalnya.

Sekolah Menengah Atas Negeri Pacitan akhirnya memiliki peralatan musik yang cukup setelah menerima bantuan dari Gubernur Jawa Timur pada masa itu, Mohammad Wiyono. Alat-alat musik bekas milik TNI AL tersebut menjadi yang terlengkap pertama di kawasan Pacitan.

Kagungan, meskipun sudah puluhan tahun tidak memegang gitar, SBY tampaknya masih mampu memainkannya dengan baik.

Sepedanya dijual

Dengan teman-teman musiknya, Bambang memiliki persahabatan yang sangat kuat, bahkan hingga saat ini. Kesulitan hidup di masa lalu telah memperkuat ikatan persahabatan mereka. Pada masa itu, selain kondisi yang sulit dalam hal pangan, geng mereka sering mengalami kesulitan keuangan.

Kelompok musik sekolah menengah sering tampil menghibur dalam suatu acara, hanya untuk mendapatkan sedikit makanan yang enak. Jika ada makanan lebih, mereka simpan untuk sarapan keesokan harinya. Singkatnya, kehidupan pada masa itu penuh dengan kesulitan.

Pada momen-momen tertentu, Bambang menunjukkan sikap persahabatannya. Meskipun kehidupannya tidak seberat teman-temannya, karena dia anak tunggal dari seorang pegawai negeri, dia merasa tidak tega melihat kesulitan temannya. Pada suatu kesempatan dia menjualberko(lampu) sepedanya hanya untuk memastikan teman-temannya bisa makan saat berkumpul. Pada waktu lain, mengikuti perkembangan penjualannya. Akhirnya, sepedanya juga dijual.

Jika akan tampil di panggung, Bambang sering membawa dua set pakaian tambahan untuk diberikan kepada teman-temannya yang tidak memiliki. Supaya teman-temannya juga terlihat selevel dengannya. “Sifat sosialnya sangat tinggi,” kenang Suhardjito.

Pedang pasar malam

Jika kita melihat peta, kota kelahiran SBY memang hanya merupakan sebuah kota kecil. Lokasinya terletak jauh di daerah pesisir selatan Pulau Jawa. Wilayah tersebut dikelilingi oleh dataran tinggi yang terbentuk dari batu dan kapur yang berlanjut dari Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Banyuwangi di Jawa Timur. Di sebelah selatan terdapat Samudera Hindia yang luas dengan ombak yang ganas.

Dengan kondisi topografi demikian, penduduk bertahan hidup dengan memanfaatkan hasil alam yang terbatas. Meskipun terdapat persawahan padi, di kawasan dataran tinggi dan kering, tanaman yang umum ditanam adalah singkong dan kelapa.

Oleh karena itu, kota ini pernah dikenal dengan sebutan Kota Gaplek. Gaplek merupakan umbi kayu yang telah dikeringkan. Masyarakat juga pernah mempercayai tiwul yang terbuat dari gaplek sebagai makanan pokok harian mereka.

Keadaan tersebut memaksa para pemuda Pacitan untuk meninggalkan daerah guna meningkatkan kualitas hidup atau melanjutkan studi. Kebanyakan dari mereka memilih kuliah di Yogyakarta atau Surabaya. Sementara sebagian lainnya pergi bekerja ke Sumatra atau Kalimantan.

Fakta tersebut memperkuat tekad Sus untuk menjadi seorang tentara. Setelah lulus SMA, ia mencoba masuk Akabri Udarat (Umum – Darat, kini Akademi Militer) melalui Malang. Setahun kemudian diterima. Pada masa itu, tidak ada teman sebayanya dari daerahnya yang mampu menyelesaikan proses pendidikannya hingga lulus.

Aspirasi Sus juga didasari pengalaman masa kecilnya. Saat duduk di kelas 3 SD dan tinggal di Kebonagung, dia pernah menyaksikan tentara sedang melakukan latihan perang. Dia sangat terkesan dengan seragam tentara yang dilapisi tanaman untuk bersembunyi. Dalam pandangan seorang anak kecil, terlihat perkasa melihat seseorang berpakaian perang dan menembak.

Saat kelas 5 SD, Sus diajak ayahnya ke Yogyakarta untuk mengunjungi keraton dan pasar malam Sekaten. Keluarga tersebut sempat mampir ke Akademi Militer Nasional di Magelang, dan di sana Sus melihat para taruna sedang berjalan-jalan. Karena terkesan, saat di pasar malam ia meminta agar diberi pedang-pedangan kayu agar terlihat seperti seorang tentara.

Saat menjadi taruna Akabri, pada waktu liburan singkat, Sus selalu kembali ke Pacitan untuk berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya. Ia juga selalu menyempatkan diri untuk tidur di rumah pamannya. Kebiasaan ini tetap dilakukannya hingga Sus menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Menurut Endang, tidak ada perubahan dalam diri Sus. Terasa seperti tahun-tahun 1960-an, ketika mereka masih tinggal bersama dalam satu rumah.

Dari Pacitan, langkah Sus, Bambang, atau SBY, kemudian menuju Magelang, lalu ke Ibu Kota, dan selanjutnya ke Istana Merdeka. Bukan hanya satu masa jabatan, Sus menjabat sebagai Presiden RI selama dua periode, yaitu dari tahun 2004 hingga 2014.