Adopsi Teknologi Jepang, Warga RW 01 Pondok Bambu Sukses Kelola Sampah Organik

Ringkasan Berita:

  • Srikandi RW 01 Kelurahan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, memproses sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos menggunakan metode Takakura.
  • Inovasi ini menggunakan keranjang sederhana untuk memilah sisa makanan tanpa menimbulkan bau.
  • Selain mengurangi jumlah sampah, hasil kompos juga dimanfaatkan dalam pelestarian hijauan lingkungan.

, DUREN SAWIT– Srikandi RW 01 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos menggunakan teknik Takakura.

Metode pengelolaan sampah organik ini menggunakan keranjang pakaian yang dilengkapi lapisan sekam di bagian bawah sebagai media untuk mempercepat proses penguraian.

Inovasi ini dilakukan guna mengurangi jumlah sampah sejak awal, sekaligus mendukung program penanaman pohon dan meningkatkan manfaat sampah bagi masyarakat.

Ketua RW 01 Kelurahan Pondok Bambu, Edi Suwito menyampaikan bahwa metode Takakura diciptakan oleh seorang ahli asal Jepang bernama Koji Takakura.

Menurutnya, metode tersebut merupakan salah satu pilihan yang diperkenalkan kepada masyarakat untuk memperkuat kebiasaan memilah sampah.

“Ini adalah salah satu pilihan yang kami berikan kepada warga dalam memperkuat gerakan pemilahan sampah. Metode ini kami pelajari melalui studi banding ke Kampung Takakura Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, lalu kami terapkan di RW 01 agar bisa menyebar ke masyarakat dan menjadi kebiasaan dalam mengelola limbah,” kata Edi, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa metode Takakura adalah cara pengomposan sampah organik dalam skala rumah tangga yang menggunakan keranjang berlubang serta aktivitas mikroba untuk mengurai sisa makanan menjadi pupuk tanpa menimbulkan bau.

Selain itu, sampah yang dikelola oleh sekitar 10 anggota Srikandi RW 01 terdiri dari sisa-sisa sayuran, kulit buah, nasi, cangkang telur, serta limbah organik lainnya dari rumah tangga.

Dengan proses fermentasi bertahap, sampah berubah menjadi kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman hijauan di sekitar lingkungan.

“Metode ini juga ramah lingkungan dan efisien karena tidak memerlukan area yang luas,” katanya.

Edi berharap penerapan metode Takakura bisa menjadi teladan bagi daerah lain di Jakarta dalam usaha menekan jumlah sampah rumah tangga.

Sementara itu, warga RW 01 Pondok Bambu, Darwanti mengatakan mendapat manfaat dari pelatihan pengelolaan sampah dengan metode tersebut.

Menurutnya, metode Takakura dapat diterapkan dengan mudah di lingkungan permukiman karena tidak menimbulkan bau dan hasil akhirnya bisa digunakan kembali.

“Metode ini sangat berguna karena tidak berbau dan hasilnya dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman. Kami berharap semakin banyak warga yang ikut memilah sampah organik dari rumah,” katanya. (m26)

Lihat berita lainnya di WhatsApp.

Lihat berita lainnya di Google News.