– Perubahan dalam sistem pendidikan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) diiringi dengan pengurangan aturan yang ketat. Sekarang peserta diperbolehkan menggunakan ponsel atau HP pada waktu tertentu. Mereka juga bisa menerima kiriman barang dari keluarga yang dikirimkan ke tempat pelatihan (satdik).
Menurut Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari proses evaluasi dan merupakan wujud perhatian terhadap kondisi psikologis peserta. Kemhan, yang merupakan salah satu komponen dari panitia seleksi nasional (panselnas), juga mengakomodir aspirasi dari keluarga peserta.
“Penyelenggara menetapkan aturan penggunaan ponsel pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Peserta juga diberi kesempatan untuk menerima kiriman barang dari keluarga sesuai prosedur yang ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan,” kata Rico pada Kamis (2/7).
Rico menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan wujud kepercayaan dari panselnas terhadap peserta. Pihaknya berharap ponsel digunakan untuk menjaga komunikasi yang positif dengan keluarga, memberikan kabar yang baik, serta memperkuat semangat peserta selama mengikuti pelatihan.
“Sebaliknya, pengiriman barang untuk menjaga semangat peserta tanpa menimbulkan ketidakseimbangan bagi peserta lain,” jelasnya.
Jika peserta menghadapi kesulitan selama menjalani proses pendidikan dan pelatihan, Rico mengharapkan mereka menyampaikan masalah tersebut kepada instruktur, pembimbing, tenaga kesehatan, atau pimpinan unit pendidikan. Ia menjamin, setiap umpan balik dan kendala yang diberikan akan segera ditangani.
“Kementerian Pertahanan bersama seluruh panitia seleksi nasional akan terus melakukan penilaian dan perbaikan agar kegiatan ini berjalan lebih aman, seimbang, edukatif, serta sesuai dengan tujuan program nasional,” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan telah menghapus latihan dasar militer (latsarmil) dalam sistem pendidikan. Berbagai materi yang berkaitan dengan teknik dan taktik militer kini tidak lagi diajarkan. Pelaksanaan pembekalan peserta dalam program tersebut terus dievaluasi dan disesuaikan sesuai dengan perubahan yang terjadi.
“Sebagai bagian dari evaluasi tersebut, bentuk kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai latsarmil tidak lagi diadakan dalam format sebelumnya. Kini kegiatan difokuskan pada pelatihan persiapan bela negara dan manajerial,” ujar Rico pada Kamis (2/7).
Berdasarkan pernyataan jenderal bintang satu TNI AD, tujuan pendidikan tersebut bukanlah untuk menjadikan peserta sebagai prajurit atau Komponen Cadangan (Komcad), melainkan untuk mengembangkan sifat disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, tanggung jawab, kerja sama serta kesiapan dalam manajemen.
“Di dalam penyesuaian ini, materi teknis dan taktis militer telah dihapus, termasuk kegiatan menembak, taktik regu senapan, serta aktivitas taktis dan teknik lainnya,” tegas Rico.
Pihak terkait juga memastikan tidak ada lagi latihan fisik yang berkaitan dengan pelatihan militer. Kegiatan yang dilakukan hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran, seperti senam pagi atau jalan kaki ringan. Hal ini tetap disesuaikan dengan kondisi setiap peserta.
